Sekian

Semenit berlalu dan aku terus mengingatmu, ternyata menit yang berlalu tadi adalah penyambung lidah terakhirku padamu. Setelah ini kau pergi, mungkin kembali ke rumah lamamu, atau bisa juga mengembara ke antah berantah yang kau sebut indah itu. Aku sudah malas untuk tahu, nadiku berkata kau bukan lagi purnama malamku, bahkan kakiku sudah tak mau lagi melangkah padamu. Makan malamku telah habis kulahap, tersisa piring untuk kebersihkan, tersisa meja untuk kubiarkan, dan tersisa kau untuk kutinggalkan. Bukan, ini bukan salahmu, ini juga bukan salahku, mungkin ini salah pohon yang kita gunakan untuk berteduh sore itu. Andai pohon itu tak menjebak kita pada bualan cinta, mungkin kita tak akan pernah begini, mungkin kisah kita tak akan berujung pada kasih yang pecah ini. Sekarang aku akan berjalan saja ke ufuk timur, mencari fajar dan memaki pohon itu bila kutemui lagi. Kau mungkin akan berjalan ke barat dan segera menemukan pohon lain untuk berjumpa cinta yang baru. Malam ini kita berdua, selesai.

Rindu

Padi mulai menguning, air di kali mulai bening, sapi di ladang telah kenyang terkapar, anak-anak mulai mencari ikan. Aku melihat ilalang kembali menjulang, menyembunyikan kelemahannya, melindungi martabatnya. Pohon jati menemui lagi daunnya, dipinang kemudian tumbuh bersama. Sayang sekarang kunang-kunang tinggal angan, ingatan masa kecil yang rasanya sulit terulang. Semuanya, ya semuanya. Yang tersisa kini tinggallah sepi, menyayat hati, lukai nurani. Perantauan memang kejam, bukan, bukan perantauan yang kejan, namun rindu, rindu yang kejam. Semilir angin kembali berhembus, dan kutemui air mataku jatuh, membasahi kertas, bukan sembarang kertas, melainkan foto masa kecilku. Terlampau rindu hingga pikiranku selalu melayang, tak sekedar bersama bintang, lebih tinggi lagi, mungkin telah mengenai batas semesta. Aku punya kewajiban, tanggung jawab yang harus diemban, impian yang harus dikejar. Waktu memang tak dapat diulang, setidaknya kenapa ia tak memberi kesempatan ?

Kini aku sendiri, menatap foto masa kecil dengan dada sesak, mata sembab, dan hati yang penuh harap. Aku harus sadar bagaimana aku disini, temanku sekarang sepi, sahabatku kini sendiri, air mata tak boleh jatuh lagi, aku harus kuat. Harus kuingat untuk apa aku disini, derita batin ini tak seharusnya menguap sia, aku harus berjuang, aku harus bertahan. Masa kecilku tak boleh kulupakan, namun masa depanku harus selalu kuusahakan, kupersiapkan, kuperjuangkan, hingga akhirnya dapat kugenggam, dan aku dapat pulang, kembali dari perantauan, menuntaskan rindu, bertemu kamu, rumah.

Hauslah, Laparlah.

Tidak semua penjajah ialah jahat dan tak pula semua pribumi ialah baik, itu adalah ketetapan, sebuah hakikat dalam perjalanan panjang perjuangan, hal lumrah dalam peperangan. Tak semestinya kita mengutuk semua penjajah dalam satu payung bernama bandit, tak seyogianya pula kita memuji semua pendahulu kita dalam satu atap bernama pahlawan. Hati manusia tak selurus itu, tak selalu searah dengan nafsu, tak selalu selaras dengan darah. Hati manusia menilai lebih daripada inderanya, daripada apa yang ia sendiri ketahui. Hati kita adalah perwujudan Tuhan dalam kehidupan, yang terkadang manusianya sendiri tak bisa menyadarinya, ia telah termakan nafsunya, tertelan egonya. Ketahuilah ketulusan hati dapat membuat manusia melawan pikirnya, melawan keraguannya, dan pada akhirnya ia melakukan apa yang dinamai kebenaran, kemurnian. Seperti pada masa lalu dimana tak semua penjajah bungkam, dan tak semua pendahulu kita terdiam. Tak semua penjajah menghalangi kemerdekaan dan tak semua pendahulu kita mengharapkan kemerdekaan. Oleh karenanya, janganlah mengharap apa yang kita ketahui tak perlu lagi kita selami. Teruslah haus untuk mendapatkan ilmu, teruslah lapar untuk menjadi tahu. Salam Asanka…