Sekian

Semenit berlalu dan aku terus mengingatmu, ternyata menit yang berlalu tadi adalah penyambung lidah terakhirku padamu. Setelah ini kau pergi, mungkin kembali ke rumah lamamu, atau bisa juga mengembara ke antah berantah yang kau sebut indah itu. Aku sudah malas untuk tahu, nadiku berkata kau bukan lagi purnama malamku, bahkan kakiku sudah tak mau lagi melangkah padamu. Makan malamku telah habis kulahap, tersisa piring untuk kebersihkan, tersisa meja untuk kubiarkan, dan tersisa kau untuk kutinggalkan. Bukan, ini bukan salahmu, ini juga bukan salahku, mungkin ini salah pohon yang kita gunakan untuk berteduh sore itu. Andai pohon itu tak menjebak kita pada bualan cinta, mungkin kita tak akan pernah begini, mungkin kisah kita tak akan berujung pada kasih yang pecah ini. Sekarang aku akan berjalan saja ke ufuk timur, mencari fajar dan memaki pohon itu bila kutemui lagi. Kau mungkin akan berjalan ke barat dan segera menemukan pohon lain untuk berjumpa cinta yang baru. Malam ini kita berdua, selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *