Wiyung : Penjaga Sepi

Angin berhembus tak karuan, air turun tapi segan, matahari muncul namun malu-malu harimau, awas saja kalau diterkam. Ditepi sungai sambungan bengawan ini Wiyung seperti hilang ingatan, ngalor ngidul layaknya kucing cari makan. Tak jelas apa musababnya, berjalan ke utara dia tendang batu, berjalan ke selatan di tendang batu lagi, tapi yang ini bukan batunya yang mental, malah Wiyung yang tersungkur, lha wong batunya besar. Memang aneh betul sikap Wiyung hari ini, bertemu Parman pun dia tak sudi bersalaman, padahal biasanya Parmanlah yang sering memberi utang. Dasar Wiyung tak tahu diuntung. Setelah Parman berlalu, Wiyung kembali ke tepi sungai, ditatapnya sungai yang terus mengalir, diratapinya kesalahan bodohnya pagi ini, dia membatin “Andai saja aku ikan wader, habis kawin lalu dipancing manusia, dimakan, lalu terbang ke surga.” Wiyung kembali berdiri, berteriak sendiri ke arah sungai, “Jancokkk.” Tegas dan berani, padahal dia tahu 50 meter dari tempatnya berdiri ada masjid yang telah siap mengumandangkan ajakannya. Dasar gendeng. Matahari pun segera saja tergelincir, sekarang berwarna jingga. Wiyung telah puas melepaskan emosinya, melepas penatnya, walau selepas ini dia dicap jadi orang gila.

Banyak orang bertanya-tanya, mulai dari para tetangga, penjual sayur, penjual pentol, penjual sate, penjual mie ayam, penjual pecel, penjual bakpao, sampai kakek-kakek penghuni masjid. Apa Wiyung jadi gendeng seperti ini karena masalah hati ? Tapi pertanyaan ini langsung disangkal ingatan mereka sendiri, karena mereka tahu Wiyung memang telah lama sendiri, tak mungkin dia cidera hati. Wong sehari-hari tugasnya angon sapi, mosok ya gendeng karena hati, paling-paling karena sudah bosan ngurus teletong sapi. Anak-anak disekitar rumah Wiyung sudah dilarang ibu bapaknya untuk bermain di dekat rumah Wiyung, para ibu bapak sepakat bilang ke anak mereka kalau sekarang Wiyung jadi manusia setengah genderuwo. Anak-anak jadi takut, kalau tak sengaja melihat Wiyung langsung saja anak-anak menjerit sambil berlari pulang, meninggalkan Wiyung yang memang telah lama sendiri, sepi.

Tahu telah dijauhi tetangganya Wiyung santai saja, kembali ke rutinitasnya lagi, angon sapi. Dia tahu cara dia melepas penat beberapa hari lalu memang akan membawa dampak bagi pandangan orang terhadap dirinya. Sekarang yang tidak menganggapnya edan ya tinggal sapi-sapi angonnya yang setiap hari diberi makan, dibersihkan teletongnya, dan sesekali dimandikan kembang. Harap maklum, Wiyung telah cinta mati sama sapi-sapinya, alasannya sederhana, ya karena yang mau sama Wiyung tinggal sapi-sapinya. Kalau sapi-sapi Wiyung sudah pada maklum tuannya jadi seperti itu, yang penting bagi mereka tuannya dapat mencukupi kebutuhan dasar mereka, rumput segar dan kandang yang bersih dari kotoran mereka sendiri. Bicara masalah cinta, selain pada sapi-sapinya sebenarnya dia juga punya cinta pada manusia, nyatanya Wiyung masih normal, bisa suka kepada wanita, wanita ini pulalah yang membuat Wiyung dikira sudah gila. Pernah setelah melepas penat Wiyung pergi ke pasar, di pasar diteriaki wong edan sama pedagang sapu, sambil promosi sapunya, pedagang sapu praktek usir setan, Wiyung jadi sasarannya. Lewat dari pedagang sapu ada pedagang handuk, sambil terus merancu handuknya barang yang kuat, si pedagang terus menyabet Wiyung yang mau beli handuk, dasar malang nasib Wiyung kali ini. Tak dapat apapun di pasar kecuali lebam dan memar.

Satu minggu sudah Wiyung diberi label gendeng oleh warga desa. Parman yang memang telah curiga dengan gerak-gerik Wiyung akhir-akhir ini, mencoba memberanikan diri, sendiri dia pergi ke rumah Wiyung yang memang tak jauh dari rumahnya, dekat jembatan desa. “Yung Wiyung….” (tok tok tok) dengan sabar Parman mengetuk pintu rumah Wiyung. “Yung Wiyung…..”, “Mouuuuu….” Malah sapi-sapi Wiyung yang menjawab, serentak pula. Burung yang bertengger di pohon depan rumah Wiyung sudah bersiul-siul bersahutan, seakan mengatakan kalau sedang tidak ada orang di rumah. “Tak biasanya Wiyung tidak ada di rumah pagi-pagi begini.” Gumam Parman yang memang telah hafal jam-jam keluar Wiyung. Parman masih sabar menunggu, sambil ikut bersiul Parman menikmati pagi yang masih bebas polusi, polusi gosip ibu-ibu. Setengah jam Parman menunggu, sabar Parman sudah diujung jalan, akhirnya Parman pulang, meninggalkan sapi yang terus teriak mou mou dan burung yang tak kehabisan siul. Parman pulang lewat jalan biasa, melewati pematang sawah yang tak panen-panen, tak luas pula sebenarnya sawah desa ini. Meninggalkan sawah yang sudah malas menguning, Parman kemudian melewati jembatan desa yang sudah agak tua, ditengah jembatan Parman melihat ada yang aneh, “WIYUNGGGG!!!!”

(Bersambung)