Wiyung : Penjaga Sepi (2)

“Goblog kamu, pagi-pagi begini mau jadi makanan buaya.”

Parman terus menasihati Wiyung sambil marah-marah, capek juga lama-lama, apa lagi dia baru saja menarik Wiyung cepat-cepat pas mau lompat ke sungai, yang sebenarnya tidak begitu dalam, tapi banyak buayanya, buaya asli bukan buaya darat. Ada pula batu besar pas dibawah mantan calon tempat lompat Wiyung. Lengkap. Telat sedetik saja, dapat dipastikan Wiyung sudah jadi berak buaya.

Mendengar Parman terus memarahinya, Wiyung diam saja, sambil menatap kosong ujung jembatan, sebenarnya dia juga menyesal tadi mau lompat ke sungai, sesaat sebelum Parman datang, pas mau lompat, sekejap Wiyung ingat sapi-sapinya, mendiang orang tuanya, rumah sederhana peninggalan kakek neneknya, masa kecil bahagianya, bahkan wanita itu, ya wanita itu. Dalam hati walau kesal terus dicelotehi Parman, Wiyung sebenarnya sangat berterima kasih pada Parman, ada saja ternyata orang yang masih peduli padanya.

Setelah puas dan kehabisan kata, Parman langsung mengajak Wiyung pulang kerumah, Wiyung mengangguk saja. Kembali Parman melewati sawah yang segan untuk hidup, mau mati tapi tak diijinkan petani, mau hidup tapi tak dapat pupuk subsidi. Kacau. Sesampainya di pelataran rumah, Wiyung langsung disambut sapi-sapinya, “Mouu……”, meninggalkan Parman sendiri, Wiyung berlari ke kandang sapi, langsung dipeluk, dicium, sampai puas. Sapi-sapi Wiyung biasa saja, yang penting makan, tidur, berak, dan beranak. Tidak peduli nasib tuannya yang hampir jadi santapan buaya. Parman geleng-geleng kepala lihat kelakuan Wiyung, sekarang dia percaya kata orang, Wiyung telah gendeng.

Usai menciumi semua sapi-sapinya, Wiyung seperti kembali punya semangat hidup, mulai ada kobar api kecil dimatanya.

“Woy Yung, aku tamumu kok ndak kamu urus, malah ngurus sapi bau mu terus, tau gitu tak biarin aja kamu lompat, lumayan kalau jadi berak buaya, bisa jadi makanan ikan wader”, Parman mulai protes,

“Sabar Mann, kunci rumahku tadi sudah tak buang ditumpukan tletong, gak ngira aku kalau masih bisa hidup”, Wiyung menjawab sambil menunjukkan kunci rumahnya yang kotor dan bau tletong.

“Edan”, Gumam Parman lirih.

Setelah membersihkan tangan dan kunci rumah, Wiyung lantas membuka pintu depan rumahnya,

“Ayo Man masuk”, tanpa permisi Parman masuk duluan dan langsung duduk di kursi ruang tamu yang sekaligus jadi ruang keluarga, kursinya tidak baru, sudah tua, barangkali sudah masuk kriteria barang purba, cocok dimuseumkan. Wiyung entah kesambet apa, mungkin genderuwo, mungkin juga penunggu sungai, atau malah karena sudah jadi orang gila, tanpa basa-basi Wiyung langsung ambil posisi sungkem dibawah kaki Parman,

“Mak… asih… yo Man… nn…”, Wiyung mengucapkan kalimat saktinya dengan tidak jelas, antara lendir hidung dengan air mata sudah jadi satu, pecah sudah tandon air mata Wiyung. Parman yang kebingungan dengan sikap Wiyung langsung mengambil sikap kebapakan, Parman mengusap-usap pundak Wiyung, sebenarnya Parman bukannya ingin menenangkan, tapi takut kalau Wiyung benar-benar kesambet.

“Sudah…. sudah…. kita kan teman, sudah sewajarnya saling membantu, menolong satu sama lain, apalagi pas ada kesusahan” Akhirnya nilai PPKN Parman yang selalu bagus saat masih sekolah dapat dimanfaatkan dengan baik, berguna juga belajar bijak dari Mario Wakwao. Usai menelurkan kata-kata bijaknya, Parman mengkode Wiyung agar bangun dari sungkemnya lalu duduk di samping Parman.

“Su…wu…n.. Man… ndak… a…da.. kam..u.. aku… ud..ah… ketem…u… bap..ak..k..u.” Wiyung masih terus mengucap terima kasihnya sambil sesekali menyedot ingusnya.

“Husshh, sudah, laki-laki nggak boleh nangis, malu sama sapimu, udah-udah, kalo masih nangis tak laporin ke Pak Sarwo nanti, biar disembur.” Ucap Parman mulai capek mendengar Wiyung menangis.

Mendengar ancaman Parman Wiyung langsung membenahi dirinya, takut juga dia sama Pak Sarwo. Pak Sarwo ini dukun paling top di desa, semburan Pak Sarwo terkenal moncer dalam menyembuhkan orang-orang kesurupan, kalau ada yang kesurupan terus kena semburnya niscaya akan langsung sembuh, bukan karena mengandung doa atau mantra, tapi karena baunya, setan-setan pada takut sama bau semburan Pak Sarwo yang konon katanya tidak pernah sikat gigi tapi sering nginang, cuman ya nginangnya bukan pakai sirih saja, sudah ditambahi teletong sapi sedikit untuk penambah rasa.

Setelah melihat Wiyung tidak sedat sedot ingus lagi, Parman lantas menanyai Wiyung mengapa tadi bisa sampai mau bunuh diri.

“Aku stress Man, masalah hidupku runyam, ndak ada yang membuat hidup ini perlu diperjungkan, kamu tahu kan orang tua ku sudah ndak ada, aku ndak punya saudara, pekerjaanku cuma angon sapi sama nyambi sana-sini, ndak jelas.” Wiyung berucap dengan wajah sedihnya,

“Loh kamu kan tahu temen-temen kamu itu banyak, kalau ada masalah ya mbok diceritakan, biar ndak jadi beban, terus kalau kamu mati apa masalahmu selesai? Ya pasti ndak.” Balas Parman dengan geram.

“Iya Man tadi pas mau lompat aku tiba-tiba sadar, nyesel juga aku mau lompat tadi.”

“Banyak orang di luar sana susah-susah nyari obat biar bisa sembuh, biar bisa hidup, lha kok kamu malah pengen mati.”

“Maaf yo Man aku udah ngrepotin kamu, aku emang goblog, ndak mikir dulu, ndak bersyukur sama keadaan.” Wiyung kembali mengusap air matanya.

“Yowes, sekarang gini aja, kamu tenangin diri kamu dulu, maen sama sapimu apa gimana, yang penting seneng, terus inget sama Gusti, jangan lupa sembahyang, tobat.” Gelagat Parman sudah seperti psikolog.

 

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *