Sepasang Mata

Hujan telah reda, tersisa dedaunan dari pohon yang diterpa kekasihnya, mereka sedang tak baik-baik saja. Jika biasanya pertemuan mereka membuat desir indah untuk didengar, namun kali ini berbeda, pertemuan kali ini membuat pohon menggugurkan daunnya bak air mata setelah pertengkaran yang tak bernilai. Di dekat pohon itu berdiri, ada sepasang mata yang terpaku pada buku yang ia pegang, sendiri di taman ia tak gentar, malah terlihat senang seakan lupa hujan besar baru saja menghujam, tak peduli juga dengan pertemuan pohon dengan kekasihnya . Tak jelas apa yang ia baca, sampul bukunya telah pudar, mungkin termakan usia, mungkin juga telah lupa pada jati dirinya, ah yang penting bisa dibaca bukan?

Sepasang mata itu  mencari sesuatu, sesuatu yang mungkin saja tidak ada pada buku itu, namun dia tetap mencari, dengan perlahan, dengan pandangan yang tak dapat dialihkan. Halaman demi halaman dibalik dengan ringan, hingga akhirnya dia menatap lama pada satu halaman, dia terpaku. Sepasang mata itu kemudian meneteskan sesuatu, sesuatu yang telah lama ia pendam. Satu halaman itu menjadi sasaran air mata yang entah untuk siapa dan entah untuk apa, hanya sepasang mata itu yang tahu, dia benar-benar menyimpan rahasia ini untuk dirinya dan tentu saja Tuhan.

“Tak apa lelah, tak apa menangis, kamu masih manusia.” Untukmu, diriku. Halaman 221.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *