Wiyung : Penjaga Sepi (2)

“Goblog kamu, pagi-pagi begini mau jadi makanan buaya.”

Parman terus menasihati Wiyung sambil marah-marah, capek juga lama-lama, apa lagi dia baru saja menarik Wiyung cepat-cepat pas mau lompat ke sungai, yang sebenarnya tidak begitu dalam, tapi banyak buayanya, buaya asli bukan buaya darat. Ada pula batu besar pas dibawah mantan calon tempat lompat Wiyung. Lengkap. Telat sedetik saja, dapat dipastikan Wiyung sudah jadi berak buaya.

Mendengar Parman terus memarahinya, Wiyung diam saja, sambil menatap kosong ujung jembatan, sebenarnya dia juga menyesal tadi mau lompat ke sungai, sesaat sebelum Parman datang, pas mau lompat, sekejap Wiyung ingat sapi-sapinya, mendiang orang tuanya, rumah sederhana peninggalan kakek neneknya, masa kecil bahagianya, bahkan wanita itu, ya wanita itu. Dalam hati walau kesal terus dicelotehi Parman, Wiyung sebenarnya sangat berterima kasih pada Parman, ada saja ternyata orang yang masih peduli padanya.

Setelah puas dan kehabisan kata, Parman langsung mengajak Wiyung pulang kerumah, Wiyung mengangguk saja. Kembali Parman melewati sawah yang segan untuk hidup, mau mati tapi tak diijinkan petani, mau hidup tapi tak dapat pupuk subsidi. Kacau. Sesampainya di pelataran rumah, Wiyung langsung disambut sapi-sapinya, “Mouu……”, meninggalkan Parman sendiri, Wiyung berlari ke kandang sapi, langsung dipeluk, dicium, sampai puas. Sapi-sapi Wiyung biasa saja, yang penting makan, tidur, berak, dan beranak. Tidak peduli nasib tuannya yang hampir jadi santapan buaya. Parman geleng-geleng kepala lihat kelakuan Wiyung, sekarang dia percaya kata orang, Wiyung telah gendeng.

Usai menciumi semua sapi-sapinya, Wiyung seperti kembali punya semangat hidup, mulai ada kobar api kecil dimatanya.

“Woy Yung, aku tamumu kok ndak kamu urus, malah ngurus sapi bau mu terus, tau gitu tak biarin aja kamu lompat, lumayan kalau jadi berak buaya, bisa jadi makanan ikan wader”, Parman mulai protes,

“Sabar Mann, kunci rumahku tadi sudah tak buang ditumpukan tletong, gak ngira aku kalau masih bisa hidup”, Wiyung menjawab sambil menunjukkan kunci rumahnya yang kotor dan bau tletong.

“Edan”, Gumam Parman lirih.

Setelah membersihkan tangan dan kunci rumah, Wiyung lantas membuka pintu depan rumahnya,

“Ayo Man masuk”, tanpa permisi Parman masuk duluan dan langsung duduk di kursi ruang tamu yang sekaligus jadi ruang keluarga, kursinya tidak baru, sudah tua, barangkali sudah masuk kriteria barang purba, cocok dimuseumkan. Wiyung entah kesambet apa, mungkin genderuwo, mungkin juga penunggu sungai, atau malah karena sudah jadi orang gila, tanpa basa-basi Wiyung langsung ambil posisi sungkem dibawah kaki Parman,

“Mak… asih… yo Man… nn…”, Wiyung mengucapkan kalimat saktinya dengan tidak jelas, antara lendir hidung dengan air mata sudah jadi satu, pecah sudah tandon air mata Wiyung. Parman yang kebingungan dengan sikap Wiyung langsung mengambil sikap kebapakan, Parman mengusap-usap pundak Wiyung, sebenarnya Parman bukannya ingin menenangkan, tapi takut kalau Wiyung benar-benar kesambet.

“Sudah…. sudah…. kita kan teman, sudah sewajarnya saling membantu, menolong satu sama lain, apalagi pas ada kesusahan” Akhirnya nilai PPKN Parman yang selalu bagus saat masih sekolah dapat dimanfaatkan dengan baik, berguna juga belajar bijak dari Mario Wakwao. Usai menelurkan kata-kata bijaknya, Parman mengkode Wiyung agar bangun dari sungkemnya lalu duduk di samping Parman.

“Su…wu…n.. Man… ndak… a…da.. kam..u.. aku… ud..ah… ketem…u… bap..ak..k..u.” Wiyung masih terus mengucap terima kasihnya sambil sesekali menyedot ingusnya.

“Husshh, sudah, laki-laki nggak boleh nangis, malu sama sapimu, udah-udah, kalo masih nangis tak laporin ke Pak Sarwo nanti, biar disembur.” Ucap Parman mulai capek mendengar Wiyung menangis.

Mendengar ancaman Parman Wiyung langsung membenahi dirinya, takut juga dia sama Pak Sarwo. Pak Sarwo ini dukun paling top di desa, semburan Pak Sarwo terkenal moncer dalam menyembuhkan orang-orang kesurupan, kalau ada yang kesurupan terus kena semburnya niscaya akan langsung sembuh, bukan karena mengandung doa atau mantra, tapi karena baunya, setan-setan pada takut sama bau semburan Pak Sarwo yang konon katanya tidak pernah sikat gigi tapi sering nginang, cuman ya nginangnya bukan pakai sirih saja, sudah ditambahi teletong sapi sedikit untuk penambah rasa.

Setelah melihat Wiyung tidak sedat sedot ingus lagi, Parman lantas menanyai Wiyung mengapa tadi bisa sampai mau bunuh diri.

“Aku stress Man, masalah hidupku runyam, ndak ada yang membuat hidup ini perlu diperjungkan, kamu tahu kan orang tua ku sudah ndak ada, aku ndak punya saudara, pekerjaanku cuma angon sapi sama nyambi sana-sini, ndak jelas.” Wiyung berucap dengan wajah sedihnya,

“Loh kamu kan tahu temen-temen kamu itu banyak, kalau ada masalah ya mbok diceritakan, biar ndak jadi beban, terus kalau kamu mati apa masalahmu selesai? Ya pasti ndak.” Balas Parman dengan geram.

“Iya Man tadi pas mau lompat aku tiba-tiba sadar, nyesel juga aku mau lompat tadi.”

“Banyak orang di luar sana susah-susah nyari obat biar bisa sembuh, biar bisa hidup, lha kok kamu malah pengen mati.”

“Maaf yo Man aku udah ngrepotin kamu, aku emang goblog, ndak mikir dulu, ndak bersyukur sama keadaan.” Wiyung kembali mengusap air matanya.

“Yowes, sekarang gini aja, kamu tenangin diri kamu dulu, maen sama sapimu apa gimana, yang penting seneng, terus inget sama Gusti, jangan lupa sembahyang, tobat.” Gelagat Parman sudah seperti psikolog.

 

(Bersambung)

Memulai dan Mengalir

Salam Asanka…

Halo pembaca, apakah menurut kalian menulis adalah hal yang menyenangkan ? Atau malah membosankan ? Kenapa kita terkadang sulit untuk menulis ? Bagaimana solusinya ? Hmm… saya akan memberikan pendapat saya mengenai hal tersebut.

Mengapa Sulit ?

Banyak dari kita bahkan saya sendiri merasa menulis menjadi momok tersendiri, baik menulis untuk tugas, untuk kesenangan, maupun untuk urusan lain. Menulis terasa berat untuk dilakukan, mulai dari kita merasa teori kita dalam menulis masih kurang, tidak mendapatkan inspirasi, tidak punya bahan tulisan, dan masih banyak lagi alasan-alasan yang rasanya menjadi jangkar kita dalam menulis, jangkar yang sulit dihilangkan. Mungkin kita sering mencari-cari teori menulis yang baik agar dapat diterima oleh orang banyak, namun nyatanya kita malah terlalu asyik mencari teori sampai lupa akan hal yang paling penting untuk dapat menulis, apa itu ? Tentu saja praktek.

Kita selalu merasa kurang untuk memulai menulis hingga tak mau untuk benar-benar memulainya, coba saja langsung tuliskan apa yang ada dipikiran, tulis apa yang kamu rasakan, apa yang kamu lihat, apa yang kamu lalui hari ini, apa yang ingin kamu lakukan besok, tulis apa saja yang terlintas di benak kalian. Menulislah bagai air yang mengalir, masalah perbaikan nanti bisa dilakukan.

Agar Mudah ?

Membaca dan menulis tidak dapat dilepaskan kaitannya, mereka bagai gitar dan senar. Oiya membaca disini selain membaca buku juga bisa dengan membaca keadaan, membaca situasi dan kondisi di sekitar kita.  Kalau kata Akung Bondhet ~ (Penulis,Jurnalis,dll), beliau mengutip dari Bapak Dahlan Iskan ketika beliau masih di Jawa Pos, membaca itu air dan menulis itu kencing. Jadi kalau kita meminum air semakin banyak, kencing yang keluar pun juga akan banyak. Kalau kita minum air sedikit bahkan tidak minum sama sekali pasti kencing kita akan ikut sedikit bahkan kering kerontang.

Analogi ini bagaimanapun sangat tepat menggambarkan hubungan antara membaca dan menulis, kalau kita membaca banyak buku maka perbendaharaan kata kita akan bertambah, kita menjadi tahu bentuk-bentuk penulisan, materi kita pun akan bertambah, wawasan kita juga meluas, dan akhirnya dengan sendirinya menulis menjadi lebih mudah. Jika kita terlatih membaca keadaan maka kita menjadi peka akan kenyataan, dengan kepekaan ini kita dapat menjadi lebih mudah untuk merumuskan bayang pikiran kita. Tentu saja tetap yang paling penting untuk dapat menulis adalah praktek, membaca memang mempermudah dalam proses penulisan, namun tanpa praktek sama saja kita menahan kencing kita, malah menjadi penyakit bagi diri kita.

Agar Berkembang ?

Kalau tadi menulis perlu membaca untuk mempermudah proses penulisan kini menulis perlu diskusi untuk mengembangkan penulisan. Diskusi membuat pola pikir kita berkembang, dengan tukar gagasan maka pemikiran kita akan semakin matang. Berdiskusi membuat kita tahu celah dari gagasan kita melalui sudut pandang orang lain. Dengan diskusi materi kita pun akan bertambah, akan tumbuh kesadaran-kesadaran baru akan suatu hal, kesadaran ini bisa membuat tulisan kita semakin kaya isinya.

Kesimpulannya ?

Intinya menurut saya yang kita perlukan untuk bisa menulis adalah kemauan dan keuletan, tidak lebih dan tidak kurang, masalah bagus tidak tulisan kita itu urusan belakang, pembiasaan menjadi hal penting dalam mengembangkan kemampuan menulis kita. Menulis dimulai dari kemauan bukan kemampuan. Saat menulis sesungguhnya kita sedang berproses, saat menulis kita belajar mengenal diri kita lebih dalam, belajar mengenal sekitar kita dengan lebih baik, dan menjadi tahu hakekat sebenarnya manusia di dunia, berbagi dan bermanfaat bagi sesama.

Menulis dimulai dari mau bukan mampu.

Wiyung : Penjaga Sepi

Angin berhembus tak karuan, air turun tapi segan, matahari muncul namun malu-malu harimau, awas saja kalau diterkam. Ditepi sungai sambungan bengawan ini Wiyung seperti hilang ingatan, ngalor ngidul layaknya kucing cari makan. Tak jelas apa musababnya, berjalan ke utara dia tendang batu, berjalan ke selatan di tendang batu lagi, tapi yang ini bukan batunya yang mental, malah Wiyung yang tersungkur, lha wong batunya besar. Memang aneh betul sikap Wiyung hari ini, bertemu Parman pun dia tak sudi bersalaman, padahal biasanya Parmanlah yang sering memberi utang. Dasar Wiyung tak tahu diuntung. Setelah Parman berlalu, Wiyung kembali ke tepi sungai, ditatapnya sungai yang terus mengalir, diratapinya kesalahan bodohnya pagi ini, dia membatin “Andai saja aku ikan wader, habis kawin lalu dipancing manusia, dimakan, lalu terbang ke surga.” Wiyung kembali berdiri, berteriak sendiri ke arah sungai, “Jancokkk.” Tegas dan berani, padahal dia tahu 50 meter dari tempatnya berdiri ada masjid yang telah siap mengumandangkan ajakannya. Dasar gendeng. Matahari pun segera saja tergelincir, sekarang berwarna jingga. Wiyung telah puas melepaskan emosinya, melepas penatnya, walau selepas ini dia dicap jadi orang gila.

Banyak orang bertanya-tanya, mulai dari para tetangga, penjual sayur, penjual pentol, penjual sate, penjual mie ayam, penjual pecel, penjual bakpao, sampai kakek-kakek penghuni masjid. Apa Wiyung jadi gendeng seperti ini karena masalah hati ? Tapi pertanyaan ini langsung disangkal ingatan mereka sendiri, karena mereka tahu Wiyung memang telah lama sendiri, tak mungkin dia cidera hati. Wong sehari-hari tugasnya angon sapi, mosok ya gendeng karena hati, paling-paling karena sudah bosan ngurus teletong sapi. Anak-anak disekitar rumah Wiyung sudah dilarang ibu bapaknya untuk bermain di dekat rumah Wiyung, para ibu bapak sepakat bilang ke anak mereka kalau sekarang Wiyung jadi manusia setengah genderuwo. Anak-anak jadi takut, kalau tak sengaja melihat Wiyung langsung saja anak-anak menjerit sambil berlari pulang, meninggalkan Wiyung yang memang telah lama sendiri, sepi.

Tahu telah dijauhi tetangganya Wiyung santai saja, kembali ke rutinitasnya lagi, angon sapi. Dia tahu cara dia melepas penat beberapa hari lalu memang akan membawa dampak bagi pandangan orang terhadap dirinya. Sekarang yang tidak menganggapnya edan ya tinggal sapi-sapi angonnya yang setiap hari diberi makan, dibersihkan teletongnya, dan sesekali dimandikan kembang. Harap maklum, Wiyung telah cinta mati sama sapi-sapinya, alasannya sederhana, ya karena yang mau sama Wiyung tinggal sapi-sapinya. Kalau sapi-sapi Wiyung sudah pada maklum tuannya jadi seperti itu, yang penting bagi mereka tuannya dapat mencukupi kebutuhan dasar mereka, rumput segar dan kandang yang bersih dari kotoran mereka sendiri. Bicara masalah cinta, selain pada sapi-sapinya sebenarnya dia juga punya cinta pada manusia, nyatanya Wiyung masih normal, bisa suka kepada wanita, wanita ini pulalah yang membuat Wiyung dikira sudah gila. Pernah setelah melepas penat Wiyung pergi ke pasar, di pasar diteriaki wong edan sama pedagang sapu, sambil promosi sapunya, pedagang sapu praktek usir setan, Wiyung jadi sasarannya. Lewat dari pedagang sapu ada pedagang handuk, sambil terus merancu handuknya barang yang kuat, si pedagang terus menyabet Wiyung yang mau beli handuk, dasar malang nasib Wiyung kali ini. Tak dapat apapun di pasar kecuali lebam dan memar.

Satu minggu sudah Wiyung diberi label gendeng oleh warga desa. Parman yang memang telah curiga dengan gerak-gerik Wiyung akhir-akhir ini, mencoba memberanikan diri, sendiri dia pergi ke rumah Wiyung yang memang tak jauh dari rumahnya, dekat jembatan desa. “Yung Wiyung….” (tok tok tok) dengan sabar Parman mengetuk pintu rumah Wiyung. “Yung Wiyung…..”, “Mouuuuu….” Malah sapi-sapi Wiyung yang menjawab, serentak pula. Burung yang bertengger di pohon depan rumah Wiyung sudah bersiul-siul bersahutan, seakan mengatakan kalau sedang tidak ada orang di rumah. “Tak biasanya Wiyung tidak ada di rumah pagi-pagi begini.” Gumam Parman yang memang telah hafal jam-jam keluar Wiyung. Parman masih sabar menunggu, sambil ikut bersiul Parman menikmati pagi yang masih bebas polusi, polusi gosip ibu-ibu. Setengah jam Parman menunggu, sabar Parman sudah diujung jalan, akhirnya Parman pulang, meninggalkan sapi yang terus teriak mou mou dan burung yang tak kehabisan siul. Parman pulang lewat jalan biasa, melewati pematang sawah yang tak panen-panen, tak luas pula sebenarnya sawah desa ini. Meninggalkan sawah yang sudah malas menguning, Parman kemudian melewati jembatan desa yang sudah agak tua, ditengah jembatan Parman melihat ada yang aneh, “WIYUNGGGG!!!!”

(Bersambung)

Gagasan Harus Diperjuangkan

Gagasan harus diperjuangkan, bukan hanya sekedar mengambang dan akhirnya hilang, diperjuangkan hingga menuju titik terang, hingga menjadi penerang, bermanfaat untuk setiap insan. Walau tak mungkin juga membuat senang semua orang. Walau terkadang dalam perjalanan halangan dan rintangan selalu datang, namun anggap semua itu sebagai tantangan, yang menjadikan dirimu lebih kuat, lebih tegap, lebih siap untuk kembali berjalan. Dalam perjalanan sering kali kita tergoda untuk diam, untuk beralih ke lain tujuan, namun selalu ingat niat awal, segeralah kembali, segeralah sadar. Dalam perjalanan kita akan bertemu sesuatu yang baru, mungkin kawan baru, mungkin suasana baru, mungkin emosi yang belum pernah kau rasakan. Keluarlah dari zona nyaman, cepatlah beradaptasi. Mungkin sesekali kau rindu dengan nyamanmu, rindu dengan amanmu. Namun renungkan, semua dapat kembali kau ciptakan, nyamanmu serta amanmu. Tinggal kembali berjuang. Kuatkan dirimu, perbanyak doamu, lakukan yang terbaik. Bertahanlah, kamu bisa.

Laku

Banyak impian yang dibuang
Banyak sesal yang dipendam
Banyak keinginan yang ditendang
Bahkan yang dilakukan hanya diam
Tak lagi berbincang tentang mimpi
Tak lagi mengingat kemana ingin pergi
Terpaku pada laku manusia berdasi
Sungguh ironi nasib manusia ini
Membuang mimpinya untuk sebutir nasi
Dengan menanam diri pada gedung tinggi
Yang dia ketahui tak dapat terbang lebih lagi
Bahkan sampai nanti ketika mati telah menanti

Jangan begitu teman
Sadarlah dunia masih luas
Semesta masih terhampar
Impian haruslah kau kejar
Jangan digantung bak jemuran
Terkontang-kanting menanti hilang
Hingga kau sadar waktumu tinggal angan
Kembali tak akan mungkin
Harapan jadi terpendam
Dan hanya air mata yang keluar, sesal tak karuan

Sekian

Semenit berlalu dan aku terus mengingatmu, ternyata menit yang berlalu tadi adalah penyambung lidah terakhirku padamu. Setelah ini kau pergi, mungkin kembali ke rumah lamamu, atau bisa juga mengembara ke antah berantah yang kau sebut indah itu. Aku sudah malas untuk tahu, nadiku berkata kau bukan lagi purnama malamku, bahkan kakiku sudah tak mau lagi melangkah padamu. Makan malamku telah habis kulahap, tersisa piring untuk kebersihkan, tersisa meja untuk kubiarkan, dan tersisa kau untuk kutinggalkan. Bukan, ini bukan salahmu, ini juga bukan salahku, mungkin ini salah pohon yang kita gunakan untuk berteduh sore itu. Andai pohon itu tak menjebak kita pada bualan cinta, mungkin kita tak akan pernah begini, mungkin kisah kita tak akan berujung pada kasih yang pecah ini. Sekarang aku akan berjalan saja ke ufuk timur, mencari fajar dan memaki pohon itu bila kutemui lagi. Kau mungkin akan berjalan ke barat dan segera menemukan pohon lain untuk berjumpa cinta yang baru. Malam ini kita berdua, selesai.

Rindu

Padi mulai menguning, air di kali mulai bening, sapi di ladang telah kenyang terkapar, anak-anak mulai mencari ikan. Aku melihat ilalang kembali menjulang, menyembunyikan kelemahannya, melindungi martabatnya. Pohon jati menemui lagi daunnya, dipinang kemudian tumbuh bersama. Sayang sekarang kunang-kunang tinggal angan, ingatan masa kecil yang rasanya sulit terulang. Semuanya, ya semuanya. Yang tersisa kini tinggallah sepi, menyayat hati, lukai nurani. Perantauan memang kejam, bukan, bukan perantauan yang kejan, namun rindu, rindu yang kejam. Semilir angin kembali berhembus, dan kutemui air mataku jatuh, membasahi kertas, bukan sembarang kertas, melainkan foto masa kecilku. Terlampau rindu hingga pikiranku selalu melayang, tak sekedar bersama bintang, lebih tinggi lagi, mungkin telah mengenai batas semesta. Aku punya kewajiban, tanggung jawab yang harus diemban, impian yang harus dikejar. Waktu memang tak dapat diulang, setidaknya kenapa ia tak memberi kesempatan ?

Kini aku sendiri, menatap foto masa kecil dengan dada sesak, mata sembab, dan hati yang penuh harap. Aku harus sadar bagaimana aku disini, temanku sekarang sepi, sahabatku kini sendiri, air mata tak boleh jatuh lagi, aku harus kuat. Harus kuingat untuk apa aku disini, derita batin ini tak seharusnya menguap sia, aku harus berjuang, aku harus bertahan. Masa kecilku tak boleh kulupakan, namun masa depanku harus selalu kuusahakan, kupersiapkan, kuperjuangkan, hingga akhirnya dapat kugenggam, dan aku dapat pulang, kembali dari perantauan, menuntaskan rindu, bertemu kamu, rumah.

Hauslah, Laparlah.

Tidak semua penjajah ialah jahat dan tak pula semua pribumi ialah baik, itu adalah ketetapan, sebuah hakikat dalam perjalanan panjang perjuangan, hal lumrah dalam peperangan. Tak semestinya kita mengutuk semua penjajah dalam satu payung bernama bandit, tak seyogianya pula kita memuji semua pendahulu kita dalam satu atap bernama pahlawan. Hati manusia tak selurus itu, tak selalu searah dengan nafsu, tak selalu selaras dengan darah. Hati manusia menilai lebih daripada inderanya, daripada apa yang ia sendiri ketahui. Hati kita adalah perwujudan Tuhan dalam kehidupan, yang terkadang manusianya sendiri tak bisa menyadarinya, ia telah termakan nafsunya, tertelan egonya. Ketahuilah ketulusan hati dapat membuat manusia melawan pikirnya, melawan keraguannya, dan pada akhirnya ia melakukan apa yang dinamai kebenaran, kemurnian. Seperti pada masa lalu dimana tak semua penjajah bungkam, dan tak semua pendahulu kita terdiam. Tak semua penjajah menghalangi kemerdekaan dan tak semua pendahulu kita mengharapkan kemerdekaan. Oleh karenanya, janganlah mengharap apa yang kita ketahui tak perlu lagi kita selami. Teruslah haus untuk mendapatkan ilmu, teruslah lapar untuk menjadi tahu. Salam Asanka…

Jurnal Ngalam

Minggu, 28 April 2019

Meninggalkan rumah dikala kokok ayam belum berbunyi, sampai di sekolah waktu bulan masih riang bernyanyi. Ya hari ini adalah hari yang mungkin tidak kunanti, entah kenapa beberapa hari terakhir badan sedang tidak dalam kondisi optimal. Hari ini aku dan beberapa temanku pergi ke Malang, jarak dari Madiun via Kediri sekitar 178 km.

Kami ke Malang untuk melaksanakan semifinal lomba sosiologi, setelah sebelumnya secara beruntung lolos dari babak penyisihan. Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan mobil rental, berangkat dari sekolah saat hari masih dipanggil dini. Kami berangkat tidak sendiri, ada satu guru yang mendampingi kami. Selama perjalanan karena rasa kantuk yang begitu dalam, maka tidur adalah jawaban.

Koridor menuju tempat ganti baju

Saat sampai di daerah perbukitan dimana naik turun dan belokkan adalah wajar, aku terbangun dari tidur yang bisa dibilang tidak terlalu nyaman. Saat bangun dan melihat kedepan, adrenalin ku menjadi terpacu. Bayangkan dengan penerangan yang tidak terlalu terang ditambah tikungan tajam serta turunan yang curam mobil dipacu dengan sangat kencang. Kalau boleh dibilang rasanya mirip dikala naik roller coaster, ditambah perut yang sebelumnya memang bermasalah, aku sedikit menahan muntah. Untung kami masih disayang Tuhan, Alhamdullilah selamat. Setelah kupikir-pikir rentalan mobil ini layak direkomendasikan. Selain cepat sampai tujuan, aku juga menjadi lebih ingat Tuhan. 2 in 1.

Foto bersama sebelum lomba

Sekitar pukul setengah lima kami mampir ke masjid yang ada di Pujon untuk sholat subuh, masjid Nurul Huda namanya. Selesai sholat kami saling bercerita betapa sangarnya sopir kami. Pukul enam pagi kami sampai di tujuan, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Tak lama setelah sampai, kami langsung sarapan. Selesai sarapan kami mencoba menikmati suasana kampus, cukup asri dan sejuk.

Waktu registrasi peserta pun dibuka, aku dan teman- temanku melakukan registrasi peserta  dan ganti baju setelahnya. Selesai ganti baju kami mulai mengikuti rentetan acara, di semifinal 1 ini kami ditugaskan untuk menganalisa video yang telah disiapkan oleh panitia. Jika lolos semifinal 1 maka lanjut ke semifinal 2 setelah itu baru babak final. Selesai waktu pengerjaan sambil menunggu pengumuman, kami diajak keliling kampus dan setelahnya terserah mau apa. Kami memutuskan untuk duduk-duduk saja disebuah taman dekat fakultas tempat lomba diadakan.

Taman tempat menunggu pengumuman

Akhirnya setelah menunggu cukup lama pengumuman pun dilakukan. Ternyata dari semifinal 1 ini hanya ada 1 temanku yang lolos ke semifinal 2, aku dan ketiga temanku yang lain tidak lolos. Entah kenapa aku sama sekali tidak kecewa, menurutku menang atau kalah di suatu perlombaan itu sudah biasa yang penting kita harus tetap semangat dan berusaha menjadi lebih baik lagi. Aku dan teman-teman ku menunggu satu temanku yang lolos ke babak semifinal 2. Kami menunggu di musholla, diiringi hujan kami bersantai sambil makan siang dan melihat bunga di depan musholla.

Langit-langit musholla tempat berteduh

Sekian lama menunggu akhirnya hasil semifinal 2 keluar, dan…… ternyata temanku pun belum berjodoh. Alhasil kami pun pulang, mungkin memang belum jodohnya membawa piala, sementara ini kami membawa dulu pengalaman. Diperjalanan entah kenapa pak sopir seperti mendapat hidayah, tidak seperti saat berangkat yang gaspol, kali ini dia lebih berhati-hati. Mungkin juga pengaruh suasana Malang yang damai. Diperjalanan pulang ini kami mampir dulu membeli oleh-oleh, keripik. Lepas dari suasana sejuk dan damai Malang jati diri pak sopir kembali muncul. Pembalap. Kali ini lebih pelan dari dini hari tadi, tapi lebih ngawur. Dengan tutup mata aku menjadi lebih tenang, ingat Tuhan dan orang tua di rumah.

Oiya diperjalanan pulang ini kami mendapat kabar bahwa ekskulku paskibra mendapat juara lomba baris berbaris. Alhamdulillah selamat ya. Dan ekskul jurnalistikku yang hari ini mengikuti lomba mading di Sidoarjo juga memberi kabar, walaupun belum menang tapi aku sudah bangga. Tetap semangat yaa, semoga kedepannya bisa lebih baik.

Pukul sebelas malam kami akhirnya sampai di sekolah tercinta, Alhamdulillah kami selamat sampai tujuan. Waktu kami sampai hujan deras memberikan ucapan selamat datang kepada kami. Di perjalanan ini aku menyadari bahwa kita sebagai manusia hanya bisa berusaha semaksimal kita, masalah hasil itu adalah hal lain. Yang terpenting dari sebuah usaha adalah semangat untuk terus menjadi lebih baik, tidak menyerah, dan terus berdoa. Jangan pernah berhenti berusaha, carilah pengalaman sebanyak mungkin. Sampai jumpa di jurnal berikutnya. Salam asanka.

Yang terpenting adalah doa dan usaha. Hasil baik ? Itu bonus.

Coba Cek

Jangan buru-buru….

Menghakimi tanpa memahami, tak salah memang kita menyuarakan agar pelaku kejahatan dihukum dengan seharusnya. Namun apakah yang kalian bela mati-matian itu sudah benar-benar kalian pahami seluk beluk masalahnya ? Apa kalian hanya ingin mengikuti tren yang ada dengan cara ikut-ikutan apa yang banyak orang lakukan ?

Jujur saya tipe orang yang skeptis ketika melihat permasalahan baru yang ada. Yang memang harus dibela mari kita bela, yang salah ayo kita ikut mendorong pihak berwajib melakulan tugasnya. Itu benar. Tapi apakah hanya bersuara tanpa tahu benar apa tidak yang disuarakan itu menjadi hal yang dapat dibenarkan ? Menurut saya tidak. Ketika ada berita yang menjadi tren kita jangan langsung ikut-ikutan berpartisipasi didalamnya, entah itu menyebarkan berita maupun tanda tangan petisi dan lain-lain. Jangan sampai kita latah terhadap informasi baru yang kita terima. Mari kita berpikir kritis dan analitis, jangan langsung mengambil kesimpulan apalagi didasari emosi. Lihatlah dari berbagai kemungkinan dan sudut pandang, urai permasalahan dan coba cari informasi yang benar, ingat sekarang hoax sangat mudah dibuat dan disebar (ingat kasus Ratna Sarumpaet ? Atau mungkin Setnov ?), cobalah untuk meragukan berita yang ada, kalau memang sudah ada bukti yang memadai dan memang apa yang terjadi adalah kebenaran maka tak salah jika kita menyuarakan apa yang kita anggap benar.

Coba Cek

Minat masyarakat Indonesia untuk lebih mendalami latar belakang suatu peristiwa dengan berdasar data memang masih kurang. Kurangnya minat ini juga berkorelasi dengan kurangnya minat pada literasi, pada akhirnya jaring informasi yang sangat diperlukan pada zaman seperti sekarang ini untuk dapat memilah dan memilih informasi yang kredibel menjadi bias fungsinya. Kurangnya minat untuk literasi ini menurut saya yang menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat di Indonesia cenderung mudah diprovokasi.

Kita harus mengingat bahaya akan mobilisasi banyak orang jika diarahkan untuk sesuatu yang bersifat destruktif. Maka dari itu sebagai bentuk awal tindakan pencegahan mari kita mencoba untuk selalu mengecek keaslian berita yang kita temukan di media online dan tidak membuat provokasi dalam bentuk penyebaran berita yang tidak kredibel. Jangan sampai kita menghakimi tanpa memahami. Mungkin setelah ini saya akan menulis opini yang lebih berdasar bukan hanya rancuan seperti pada pos ini. Tunggu saja pada pos-pos berikutnya. Silahkan dikomentari, mari berbagi pemikiran. Salam asanka.

Terima, cek, suarakan.