Sepasang Mata

Hujan telah reda, tersisa dedaunan dari pohon yang diterpa kekasihnya, mereka sedang tak baik-baik saja. Jika biasanya pertemuan mereka membuat desir indah untuk didengar, namun kali ini berbeda, pertemuan kali ini membuat pohon menggugurkan daunnya bak air mata setelah pertengkaran yang tak bernilai. Di dekat pohon itu berdiri, ada sepasang mata yang terpaku pada buku yang ia pegang, sendiri di taman ia tak gentar, malah terlihat senang seakan lupa hujan besar baru saja menghujam, tak peduli juga dengan pertemuan pohon dengan kekasihnya . Tak jelas apa yang ia baca, sampul bukunya telah pudar, mungkin termakan usia, mungkin juga telah lupa pada jati dirinya, ah yang penting bisa dibaca bukan?

Sepasang mata itu  mencari sesuatu, sesuatu yang mungkin saja tidak ada pada buku itu, namun dia tetap mencari, dengan perlahan, dengan pandangan yang tak dapat dialihkan. Halaman demi halaman dibalik dengan ringan, hingga akhirnya dia menatap lama pada satu halaman, dia terpaku. Sepasang mata itu kemudian meneteskan sesuatu, sesuatu yang telah lama ia pendam. Satu halaman itu menjadi sasaran air mata yang entah untuk siapa dan entah untuk apa, hanya sepasang mata itu yang tahu, dia benar-benar menyimpan rahasia ini untuk dirinya dan tentu saja Tuhan.

“Tak apa lelah, tak apa menangis, kamu masih manusia.” Untukmu, diriku. Halaman 221.

Wiyung : Penjaga Sepi (2)

“Goblog kamu, pagi-pagi begini mau jadi makanan buaya.”

Parman terus menasihati Wiyung sambil marah-marah, capek juga lama-lama, apa lagi dia baru saja menarik Wiyung cepat-cepat pas mau lompat ke sungai, yang sebenarnya tidak begitu dalam, tapi banyak buayanya, buaya asli bukan buaya darat. Ada pula batu besar pas dibawah mantan calon tempat lompat Wiyung. Lengkap. Telat sedetik saja, dapat dipastikan Wiyung sudah jadi berak buaya.

Mendengar Parman terus memarahinya, Wiyung diam saja, sambil menatap kosong ujung jembatan, sebenarnya dia juga menyesal tadi mau lompat ke sungai, sesaat sebelum Parman datang, pas mau lompat, sekejap Wiyung ingat sapi-sapinya, mendiang orang tuanya, rumah sederhana peninggalan kakek neneknya, masa kecil bahagianya, bahkan wanita itu, ya wanita itu. Dalam hati walau kesal terus dicelotehi Parman, Wiyung sebenarnya sangat berterima kasih pada Parman, ada saja ternyata orang yang masih peduli padanya.

Setelah puas dan kehabisan kata, Parman langsung mengajak Wiyung pulang kerumah, Wiyung mengangguk saja. Kembali Parman melewati sawah yang segan untuk hidup, mau mati tapi tak diijinkan petani, mau hidup tapi tak dapat pupuk subsidi. Kacau. Sesampainya di pelataran rumah, Wiyung langsung disambut sapi-sapinya, “Mouu……”, meninggalkan Parman sendiri, Wiyung berlari ke kandang sapi, langsung dipeluk, dicium, sampai puas. Sapi-sapi Wiyung biasa saja, yang penting makan, tidur, berak, dan beranak. Tidak peduli nasib tuannya yang hampir jadi santapan buaya. Parman geleng-geleng kepala lihat kelakuan Wiyung, sekarang dia percaya kata orang, Wiyung telah gendeng.

Usai menciumi semua sapi-sapinya, Wiyung seperti kembali punya semangat hidup, mulai ada kobar api kecil dimatanya.

“Woy Yung, aku tamumu kok ndak kamu urus, malah ngurus sapi bau mu terus, tau gitu tak biarin aja kamu lompat, lumayan kalau jadi berak buaya, bisa jadi makanan ikan wader”, Parman mulai protes,

“Sabar Mann, kunci rumahku tadi sudah tak buang ditumpukan tletong, gak ngira aku kalau masih bisa hidup”, Wiyung menjawab sambil menunjukkan kunci rumahnya yang kotor dan bau tletong.

“Edan”, Gumam Parman lirih.

Setelah membersihkan tangan dan kunci rumah, Wiyung lantas membuka pintu depan rumahnya,

“Ayo Man masuk”, tanpa permisi Parman masuk duluan dan langsung duduk di kursi ruang tamu yang sekaligus jadi ruang keluarga, kursinya tidak baru, sudah tua, barangkali sudah masuk kriteria barang purba, cocok dimuseumkan. Wiyung entah kesambet apa, mungkin genderuwo, mungkin juga penunggu sungai, atau malah karena sudah jadi orang gila, tanpa basa-basi Wiyung langsung ambil posisi sungkem dibawah kaki Parman,

“Mak… asih… yo Man… nn…”, Wiyung mengucapkan kalimat saktinya dengan tidak jelas, antara lendir hidung dengan air mata sudah jadi satu, pecah sudah tandon air mata Wiyung. Parman yang kebingungan dengan sikap Wiyung langsung mengambil sikap kebapakan, Parman mengusap-usap pundak Wiyung, sebenarnya Parman bukannya ingin menenangkan, tapi takut kalau Wiyung benar-benar kesambet.

“Sudah…. sudah…. kita kan teman, sudah sewajarnya saling membantu, menolong satu sama lain, apalagi pas ada kesusahan” Akhirnya nilai PPKN Parman yang selalu bagus saat masih sekolah dapat dimanfaatkan dengan baik, berguna juga belajar bijak dari Mario Wakwao. Usai menelurkan kata-kata bijaknya, Parman mengkode Wiyung agar bangun dari sungkemnya lalu duduk di samping Parman.

“Su…wu…n.. Man… ndak… a…da.. kam..u.. aku… ud..ah… ketem…u… bap..ak..k..u.” Wiyung masih terus mengucap terima kasihnya sambil sesekali menyedot ingusnya.

“Husshh, sudah, laki-laki nggak boleh nangis, malu sama sapimu, udah-udah, kalo masih nangis tak laporin ke Pak Sarwo nanti, biar disembur.” Ucap Parman mulai capek mendengar Wiyung menangis.

Mendengar ancaman Parman Wiyung langsung membenahi dirinya, takut juga dia sama Pak Sarwo. Pak Sarwo ini dukun paling top di desa, semburan Pak Sarwo terkenal moncer dalam menyembuhkan orang-orang kesurupan, kalau ada yang kesurupan terus kena semburnya niscaya akan langsung sembuh, bukan karena mengandung doa atau mantra, tapi karena baunya, setan-setan pada takut sama bau semburan Pak Sarwo yang konon katanya tidak pernah sikat gigi tapi sering nginang, cuman ya nginangnya bukan pakai sirih saja, sudah ditambahi teletong sapi sedikit untuk penambah rasa.

Setelah melihat Wiyung tidak sedat sedot ingus lagi, Parman lantas menanyai Wiyung mengapa tadi bisa sampai mau bunuh diri.

“Aku stress Man, masalah hidupku runyam, ndak ada yang membuat hidup ini perlu diperjungkan, kamu tahu kan orang tua ku sudah ndak ada, aku ndak punya saudara, pekerjaanku cuma angon sapi sama nyambi sana-sini, ndak jelas.” Wiyung berucap dengan wajah sedihnya,

“Loh kamu kan tahu temen-temen kamu itu banyak, kalau ada masalah ya mbok diceritakan, biar ndak jadi beban, terus kalau kamu mati apa masalahmu selesai? Ya pasti ndak.” Balas Parman dengan geram.

“Iya Man tadi pas mau lompat aku tiba-tiba sadar, nyesel juga aku mau lompat tadi.”

“Banyak orang di luar sana susah-susah nyari obat biar bisa sembuh, biar bisa hidup, lha kok kamu malah pengen mati.”

“Maaf yo Man aku udah ngrepotin kamu, aku emang goblog, ndak mikir dulu, ndak bersyukur sama keadaan.” Wiyung kembali mengusap air matanya.

“Yowes, sekarang gini aja, kamu tenangin diri kamu dulu, maen sama sapimu apa gimana, yang penting seneng, terus inget sama Gusti, jangan lupa sembahyang, tobat.” Gelagat Parman sudah seperti psikolog.

 

(Bersambung)

Wiyung : Penjaga Sepi

Angin berhembus tak karuan, air turun tapi segan, matahari muncul namun malu-malu harimau, awas saja kalau diterkam. Ditepi sungai sambungan bengawan ini Wiyung seperti hilang ingatan, ngalor ngidul layaknya kucing cari makan. Tak jelas apa musababnya, berjalan ke utara dia tendang batu, berjalan ke selatan di tendang batu lagi, tapi yang ini bukan batunya yang mental, malah Wiyung yang tersungkur, lha wong batunya besar. Memang aneh betul sikap Wiyung hari ini, bertemu Parman pun dia tak sudi bersalaman, padahal biasanya Parmanlah yang sering memberi utang. Dasar Wiyung tak tahu diuntung. Setelah Parman berlalu, Wiyung kembali ke tepi sungai, ditatapnya sungai yang terus mengalir, diratapinya kesalahan bodohnya pagi ini, dia membatin “Andai saja aku ikan wader, habis kawin lalu dipancing manusia, dimakan, lalu terbang ke surga.” Wiyung kembali berdiri, berteriak sendiri ke arah sungai, “Jancokkk.” Tegas dan berani, padahal dia tahu 50 meter dari tempatnya berdiri ada masjid yang telah siap mengumandangkan ajakannya. Dasar gendeng. Matahari pun segera saja tergelincir, sekarang berwarna jingga. Wiyung telah puas melepaskan emosinya, melepas penatnya, walau selepas ini dia dicap jadi orang gila.

Banyak orang bertanya-tanya, mulai dari para tetangga, penjual sayur, penjual pentol, penjual sate, penjual mie ayam, penjual pecel, penjual bakpao, sampai kakek-kakek penghuni masjid. Apa Wiyung jadi gendeng seperti ini karena masalah hati ? Tapi pertanyaan ini langsung disangkal ingatan mereka sendiri, karena mereka tahu Wiyung memang telah lama sendiri, tak mungkin dia cidera hati. Wong sehari-hari tugasnya angon sapi, mosok ya gendeng karena hati, paling-paling karena sudah bosan ngurus teletong sapi. Anak-anak disekitar rumah Wiyung sudah dilarang ibu bapaknya untuk bermain di dekat rumah Wiyung, para ibu bapak sepakat bilang ke anak mereka kalau sekarang Wiyung jadi manusia setengah genderuwo. Anak-anak jadi takut, kalau tak sengaja melihat Wiyung langsung saja anak-anak menjerit sambil berlari pulang, meninggalkan Wiyung yang memang telah lama sendiri, sepi.

Tahu telah dijauhi tetangganya Wiyung santai saja, kembali ke rutinitasnya lagi, angon sapi. Dia tahu cara dia melepas penat beberapa hari lalu memang akan membawa dampak bagi pandangan orang terhadap dirinya. Sekarang yang tidak menganggapnya edan ya tinggal sapi-sapi angonnya yang setiap hari diberi makan, dibersihkan teletongnya, dan sesekali dimandikan kembang. Harap maklum, Wiyung telah cinta mati sama sapi-sapinya, alasannya sederhana, ya karena yang mau sama Wiyung tinggal sapi-sapinya. Kalau sapi-sapi Wiyung sudah pada maklum tuannya jadi seperti itu, yang penting bagi mereka tuannya dapat mencukupi kebutuhan dasar mereka, rumput segar dan kandang yang bersih dari kotoran mereka sendiri. Bicara masalah cinta, selain pada sapi-sapinya sebenarnya dia juga punya cinta pada manusia, nyatanya Wiyung masih normal, bisa suka kepada wanita, wanita ini pulalah yang membuat Wiyung dikira sudah gila. Pernah setelah melepas penat Wiyung pergi ke pasar, di pasar diteriaki wong edan sama pedagang sapu, sambil promosi sapunya, pedagang sapu praktek usir setan, Wiyung jadi sasarannya. Lewat dari pedagang sapu ada pedagang handuk, sambil terus merancu handuknya barang yang kuat, si pedagang terus menyabet Wiyung yang mau beli handuk, dasar malang nasib Wiyung kali ini. Tak dapat apapun di pasar kecuali lebam dan memar.

Satu minggu sudah Wiyung diberi label gendeng oleh warga desa. Parman yang memang telah curiga dengan gerak-gerik Wiyung akhir-akhir ini, mencoba memberanikan diri, sendiri dia pergi ke rumah Wiyung yang memang tak jauh dari rumahnya, dekat jembatan desa. “Yung Wiyung….” (tok tok tok) dengan sabar Parman mengetuk pintu rumah Wiyung. “Yung Wiyung…..”, “Mouuuuu….” Malah sapi-sapi Wiyung yang menjawab, serentak pula. Burung yang bertengger di pohon depan rumah Wiyung sudah bersiul-siul bersahutan, seakan mengatakan kalau sedang tidak ada orang di rumah. “Tak biasanya Wiyung tidak ada di rumah pagi-pagi begini.” Gumam Parman yang memang telah hafal jam-jam keluar Wiyung. Parman masih sabar menunggu, sambil ikut bersiul Parman menikmati pagi yang masih bebas polusi, polusi gosip ibu-ibu. Setengah jam Parman menunggu, sabar Parman sudah diujung jalan, akhirnya Parman pulang, meninggalkan sapi yang terus teriak mou mou dan burung yang tak kehabisan siul. Parman pulang lewat jalan biasa, melewati pematang sawah yang tak panen-panen, tak luas pula sebenarnya sawah desa ini. Meninggalkan sawah yang sudah malas menguning, Parman kemudian melewati jembatan desa yang sudah agak tua, ditengah jembatan Parman melihat ada yang aneh, “WIYUNGGGG!!!!”

(Bersambung)

Sekian

Semenit berlalu dan aku terus mengingatmu, ternyata menit yang berlalu tadi adalah penyambung lidah terakhirku padamu. Setelah ini kau pergi, mungkin kembali ke rumah lamamu, atau bisa juga mengembara ke antah berantah yang kau sebut indah itu. Aku sudah malas untuk tahu, nadiku berkata kau bukan lagi purnama malamku, bahkan kakiku sudah tak mau lagi melangkah padamu. Makan malamku telah habis kulahap, tersisa piring untuk kebersihkan, tersisa meja untuk kubiarkan, dan tersisa kau untuk kutinggalkan. Bukan, ini bukan salahmu, ini juga bukan salahku, mungkin ini salah pohon yang kita gunakan untuk berteduh sore itu. Andai pohon itu tak menjebak kita pada bualan cinta, mungkin kita tak akan pernah begini, mungkin kisah kita tak akan berujung pada kasih yang pecah ini. Sekarang aku akan berjalan saja ke ufuk timur, mencari fajar dan memaki pohon itu bila kutemui lagi. Kau mungkin akan berjalan ke barat dan segera menemukan pohon lain untuk berjumpa cinta yang baru. Malam ini kita berdua, selesai.

Rindu

Padi mulai menguning, air di kali mulai bening, sapi di ladang telah kenyang terkapar, anak-anak mulai mencari ikan. Aku melihat ilalang kembali menjulang, menyembunyikan kelemahannya, melindungi martabatnya. Pohon jati menemui lagi daunnya, dipinang kemudian tumbuh bersama. Sayang sekarang kunang-kunang tinggal angan, ingatan masa kecil yang rasanya sulit terulang. Semuanya, ya semuanya. Yang tersisa kini tinggallah sepi, menyayat hati, lukai nurani. Perantauan memang kejam, bukan, bukan perantauan yang kejan, namun rindu, rindu yang kejam. Semilir angin kembali berhembus, dan kutemui air mataku jatuh, membasahi kertas, bukan sembarang kertas, melainkan foto masa kecilku. Terlampau rindu hingga pikiranku selalu melayang, tak sekedar bersama bintang, lebih tinggi lagi, mungkin telah mengenai batas semesta. Aku punya kewajiban, tanggung jawab yang harus diemban, impian yang harus dikejar. Waktu memang tak dapat diulang, setidaknya kenapa ia tak memberi kesempatan ?

Kini aku sendiri, menatap foto masa kecil dengan dada sesak, mata sembab, dan hati yang penuh harap. Aku harus sadar bagaimana aku disini, temanku sekarang sepi, sahabatku kini sendiri, air mata tak boleh jatuh lagi, aku harus kuat. Harus kuingat untuk apa aku disini, derita batin ini tak seharusnya menguap sia, aku harus berjuang, aku harus bertahan. Masa kecilku tak boleh kulupakan, namun masa depanku harus selalu kuusahakan, kupersiapkan, kuperjuangkan, hingga akhirnya dapat kugenggam, dan aku dapat pulang, kembali dari perantauan, menuntaskan rindu, bertemu kamu, rumah.