Sejarah Kampungku

Halo teman-teman!

Tugas kali ini datang dari mata kuliah sejarah sosial dan politik Indonesia. Dalam tugas ini saya diminta untuk menulis sebuah esai tentang sejarah kampung saya. Disini saya menuliskan sedikit gambaran tentang ragam sejarah yang ada di Kota Madiun.

Selamat membaca!
Ketika saya mengikuti kegiatan lawatan sejarah daerah di Semarang yang pesertanya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jogjakarta, teman-teman saya sering memanggil saya dengan nada guyonan “PKI”. Tentu hal ini sangat beralasan karena orang-orang di luar Madiun terutama orang luar Provinsi Jawa Timur menganggap Madiun sangat kental dengan PKI. 

Saya tidak bisa menyalahkan teman-teman saya yang beranggapan seperti itu. Semenjak tahun 1948 seolah Madiun tidak bisa dipisahkan dari bayang-bayang PKI. Padahal Madiun kaya akan sejarah lain yang tak kalah penting dan tentu saja memiliki konotasi yang lebih baik daripada, PKI. Akhirnya saya harus menerima kenyataan bahwa banyak orang di luar sana yang beranggapan seperti itu.

Setelah pulang dari lawatan sejarah daerah saya menjadi penasaran dengan sejarah yang terjadi di kota di mana saya dibesarkan ini. Tidak berselang lama ada satu komunitas sejarah di Kota Madiun yang kebetulan sedang mengadakan kegiatan lawatan sejarah di dalam kota. Tanpa pikir panjang saya langsung mendaftarkan diri. Kegiatan selama satu hari tepatnya dari pagi ke siang hari itu membuat saya semakin sadar tentang potensi sejarah di kota saya yang memang belum banyak diangkat. Ada daerah pecinan yang sangat solid pada masanya, ada bank titil pada masa pendudukan Belanda yang masih berdiri kokoh, bahkan ada penjara politik yang dulu pernah digunakan untuk menahan Tan Malaka. Sayangnya bangunan-bangunan bersejarah di Madiun masih belum optimal pengelolaannya.

Pulang dari kegiatan ini saya belum merasa puas, hasrat saya untuk tahu lebih dalam malah semakin menjadi. Saya lantas membeli buku karya Ong Hok Ham yang berjudul “Madiun dalam Kemelut Sejarah: Priayi dan Petani di Karesidenan Madiun Abad XIX”. Dari buku ini saya menjadi tahu betapa pentingnya daerah Madiun semasa persaingan Sultan Yogyakarta dan Susuhunan Surakarta pasca perjanjian Giyanti. Saya juga menjadi lebih tahu tentang posisi Madiun yang sangat strategis secara geografis. Saya menjadi yakin kalau Madiun bukan hanya tentang PKI, ada sesuatu yang tersimpan di Madiun yang belum banyak terekspos.

Pada kegiatan lawatan sejarah daerah yang lalu semua perwakilan Jawa Timur dijanjikan untuk diundang dalam kegiatan jelajah sejarah klasik yang diadakan oleh dinas kebudayaan dan pariwisata Provinsi Jawa Timur. Sebelumnya saya tidak diberitahu tepatnya kegiatan ini akan diadakan. Setelah diberitahu lokasi pastinya saya menjadi bersemangat, jelajah sejarah kali ini diadakan di Madiun, betapa beruntungnya saya mendapat akses lebih terhadap sejarah daerah saya sendiri.

Dalam kegiatan ini sasaran utama tempat yang dikunjungi adalah tempat-tempat bersejarah yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat. Jujur saja hal ini terbukti, saya yang tinggal di Madiun pun baru mengetahui ada tempat-tampat itu. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Situs Mangiran. Situs Mangiran berada kurang lebih 30 km dari Kota Madiun. Situs ini dahulu diyakini sebagai desa kuno. Menurut pemaparan juru pelihara situs, tempat ini pernah menjadi tempat singgah Ki Ageng Mangir IV. Di dalam situs ini banyak ditemukan fragmen, arca, lingga, dolmen, dan sejenisnya. Namun tentu saja karena situs ini tergolong baru ditemukan maka masih banyak yang harus digali.

Beranjak dari Situs Mangiran saya diajak menuju Candi Wonorejo, candi ini letaknya tidak terlalu jauh dari Situs Mangiran. Candi ini terdiri dari batuan bertumpuk yang tidak terangkai sempurna sebagaimana candi pada umumnya. Terdapat lingga dan yoni di dalam area candi. Sejujurnya sampai saat ini saya masih meragukan keaslian dari lingga dan yoni tersebut karena kondisinya yang terlampau bagus untuk benda yang berumur sangat tua dan tidak terawat. Entah apa maksudnya bila dugaan saya memang benar, bahwa lingga dan yoni itu bukan asli dari zaman dahulu.

Beberapa minggu pun berlalu sejak jelajah sejarah klasik diadakan. Kebetulan juga di salah satu tempat bersejarah di Kota Madiun, yakni bosbow, sedang diadakan pameran. Di sana saya bertemu dengan guru SMP 2 Madiun yang sangat mendalami sejarah MASTRIP di Kota Madiun. Beliau bernama Pak Agung, saya mendengarkan pemaparan beliau tentang MASTRIP. Sepulang dari pameran saya menjadi tertarik dengan sejarah MASTRIP di kota saya. Sampai suatu ketika saya berkesempatan untuk datang ke rumahnya secara langsung untuk bertanya lebih dalam mengenai sejarah MASTRIP di Kota Madiun.

TRIP yang memiliki kepanjangan Tentara Republik Indonesia Pelajar merupakan kesatuan militer yang berisi para pemuda pemudi yang masih belia. Nama MAS-TRIP kemudian muncul karena kesatuan ini didominasi oleh laki-laki. Di Kota Madiun sendiri markas besar MASTRIP berada di SMP 2 Madiun. Di sana sekarang ada sebuah tugu yang menandakan tempat gugurnya salah seorang anggota MASTRIP yang bernama Moeljadi. SMP 2 Madiun terletak di Kelurahan Pandean yang berarti masih satu kelurahan dengan saya. Namun saya baru tahu kisah heroik tersebut setelah bertahun-tahun tinggal di kota ini. Sejarah yang ada di Kota Madiun sangat berwarna dan menarik untuk didalami, sampai sekarang pun saya juga masih sering mencari informasi tentang sejarah kota saya. Sayangnya data yang diberikan Pak Agung kepada saya hilang dari laptop saya, saat saya menulis ini saya masih mencari data tersebut karena isinya sangat menarik.

Dari proses pencarian ini saya menjadi sadar bahwa kita perlu melihat sejarah lebih dalam. Bukan hanya sekadar mengetahui nama tokoh dan waktu kejadian, kita juga harus bisa merangkai sebuah pesan dari sejarah itu sendiri. Dari sejarah di Madiun saya menjadi tahu pentingnya untuk tidak langsung menganggap suatu sejarah daerah sebagai label yang absolut untuk daerah itu. Saya menjadi tahu pentingnya mengkritisi sejarah yang ada.
Foto-foto terkait :
Peninggalan sejarah di Situs Mangiran.
Makam Syehk Ismail di dalam kawasan Situs Mangiran.
Candi Wonorejo. Terlihat lingga dan yoni ditengah candi.

Rumah Wohing Kapitein Chinese.

Sayangnya banyak foto yang hilang dari perangkat saya.

Kenapa Pilih DPP?

Halo teman-teman!

Kali ini blog Pena Asanka punya segmen baru, nama segmennya adalah “Tugas Kuliah”. Jadi sekarang saya baru saja menginjak bangku perkuliahan, saya kuliah di UGM jurusan politik dan pemerintahan. Kuliah di jurusan ini mengharuskan saya untuk sering menulis. Menurut saya mubazir kalau tulisan saya tidak diunggah di blog ini. Jadi saya putuskan untuk membuat segmen baru.

Tugas kali ini datang dari mata kuliah pengantar studi pemerintahan. Dalam tugas ini saya diberi tiga pertanyaan yang harus saya jawab melalui esai. Ini dia pertanyaanya :

1. Apa yang Anda ketahui tentang studi pemerintahan?
2. Kenapa memilih DPP?
3. Apa minat utama pada studi politik pemerintahan?
Dan ini jawaban saya
Selama ini saya mencoba menghimpun informasi melalui berbagai macam media. Sekarang setelah informasi itu terkumpul, saya mempunyai definisi sementara tentang apa itu pemerintahan. Pemerintahan menurut saya adalah sebuah alat yang digunakan oleh pihak yang mempunyai kewenangan, dalam hal ini negara, untuk menunaikan kewajiban serta mendapatkan haknya. Sementara itu, ilmu pemerintahan menurut saya ialah ilmu yang mempelajari serba-serbi alat tersebut. Tentu saja definisi saya tentang pemerintahan akan sangat mungkin berubah sejalan dengan proses pembelajaran dan pengalaman yang akan saya dapatkan.

Semenjak duduk di sekolah dasar saya sering membaca surat kabar. Sebenarnya membaca surat kabar pada awalnya memang bukanlah ketertarikan saya, tetapi karena bapak berlangganan surat kabar Jawa Pos yang selalu tiba di teras rumah saat pagi hari perlahan saya mulai tertarik untuk membaca surat kabar. Mula-mula saya membaca berita yang ringan dan bersifat menghibur, namun lama kelamaan saya menjadi tertarik untuk membaca berita yang lebih berat.

Headline koran yang menurut saya menarik, sukses membuat saya menjadi gemar membaca koran secara lebih utuh. Berita tentang pilkada, pemilu, penyelewengan dana, pembangunan, kemiskinan, bencana alam, dan masih banyak lagi berita yang pada akhirnya membuat diri saya bertanya. Apakah permasalahan di kehidupan memang tidak akan pernah habis? Kemudian saya menjadi tertarik dengan isu-isu sosial yang ada dan setelah itu saya meyakini bahwa ada sebuah sistem yang seharusnya dapat menjadi solusi untuk permasalahan-permasalahan yang ada. Yang saya yakini adalah bila politik dapat berjalan secara sehat maka permasalahan akan lebih mudah untuk diatasi.

Ketika duduk di kelas dua SMP saya memutuskan untuk masuk jurusan IPS saat nanti menginjak bangku SMA. Hal ini benar-benar saya lakukan meski pada awalnya banyak yang memandang sebelah mata keputusan saya, namun saya meyakini apa yang saya cari ada di jurusan IPS. Selama berada di SMA saya merasa sangat senang dengan pelajaran-pelajaran yang ada, saya juga cukup aktif mengikuti lomba-lomba berbau sosial.

Ketika di SMA ini pula saya mengenal dunia jurnalistik, saya sempat diamanahi menjadi ketua ektrakurikuler jurnalistik SMA saya dan juga menjadi ketua sebuah komunitas jurnalistik yang berisikan gabungan ektrakurikuler jurnalistik SMA yang ada di Kota Madiun. 

Semua pengalaman itu menjadikan saya semakin tertarik dengan permasalahan sosial yang ada. Melalui proses akademik saya selama SMA, saya juga menjadi yakin bahwa politik adalah jalan untuk merangkum dan menyalurkan minat saya. Setiap orang berhak memiliki pendapat yang berbeda , namun menurut saya muara dari pelajaran-pelajaran IPS yang saya dapatkan selama SMA ialah jurusan politik.

Saya selalu senang berada di Jogja, mungkin karena kultur budaya daerah saya tidak terlalu berbeda dengan Jogja saya menjadi mudah mencintai Jogja. Lagu “Sesuatu di Jogja” karya Adhitia Sofyan memang benar adanya. Saya juga melihat Jogja sebagai tempat yang baik untuk berproses, terutama di kampus impian saya, UGM. Dengan segala pertimbangan yang ada saya sangat ingin berkuliah di UGM jurusan politik dan pemerintahan. Alhamdulillah keinginan saya bisa terwujud.

Setelah mengikuti kelas minggu pertama pengantar studi pemerintahan dan mendapat penjelasan tentang peminatan yang akan dipelajari ke depannya, saya menjadi tertarik dengan studi negara dan masyarakat. Menurut saya dua hal ini tidak bisa dipisahkan. Negara membutuhkan masyarakat dan masyarakat membutuhkan negara, hal ini menjadi menarik untuk didalami kedepannya.