Memulai dan Mengalir

Salam Asanka…

Halo pembaca, apakah menurut kalian menulis adalah hal yang menyenangkan ? Atau malah membosankan ? Kenapa kita terkadang sulit untuk menulis ? Bagaimana solusinya ? Hmm… saya akan memberikan pendapat saya mengenai hal tersebut.

Mengapa Sulit ?

Banyak dari kita bahkan saya sendiri merasa menulis menjadi momok tersendiri, baik menulis untuk tugas, untuk kesenangan, maupun untuk urusan lain. Menulis terasa berat untuk dilakukan, mulai dari kita merasa teori kita dalam menulis masih kurang, tidak mendapatkan inspirasi, tidak punya bahan tulisan, dan masih banyak lagi alasan-alasan yang rasanya menjadi jangkar kita dalam menulis, jangkar yang sulit dihilangkan. Mungkin kita sering mencari-cari teori menulis yang baik agar dapat diterima oleh orang banyak, namun nyatanya kita malah terlalu asyik mencari teori sampai lupa akan hal yang paling penting untuk dapat menulis, apa itu ? Tentu saja praktek.

Kita selalu merasa kurang untuk memulai menulis hingga tak mau untuk benar-benar memulainya, coba saja langsung tuliskan apa yang ada dipikiran, tulis apa yang kamu rasakan, apa yang kamu lihat, apa yang kamu lalui hari ini, apa yang ingin kamu lakukan besok, tulis apa saja yang terlintas di benak kalian. Menulislah bagai air yang mengalir, masalah perbaikan nanti bisa dilakukan.

Agar Mudah ?

Membaca dan menulis tidak dapat dilepaskan kaitannya, mereka bagai gitar dan senar. Oiya membaca disini selain membaca buku juga bisa dengan membaca keadaan, membaca situasi dan kondisi di sekitar kita.  Kalau kata Akung Bondhet ~ (Penulis,Jurnalis,dll), beliau mengutip dari Bapak Dahlan Iskan ketika beliau masih di Jawa Pos, membaca itu air dan menulis itu kencing. Jadi kalau kita meminum air semakin banyak, kencing yang keluar pun juga akan banyak. Kalau kita minum air sedikit bahkan tidak minum sama sekali pasti kencing kita akan ikut sedikit bahkan kering kerontang.

Analogi ini bagaimanapun sangat tepat menggambarkan hubungan antara membaca dan menulis, kalau kita membaca banyak buku maka perbendaharaan kata kita akan bertambah, kita menjadi tahu bentuk-bentuk penulisan, materi kita pun akan bertambah, wawasan kita juga meluas, dan akhirnya dengan sendirinya menulis menjadi lebih mudah. Jika kita terlatih membaca keadaan maka kita menjadi peka akan kenyataan, dengan kepekaan ini kita dapat menjadi lebih mudah untuk merumuskan bayang pikiran kita. Tentu saja tetap yang paling penting untuk dapat menulis adalah praktek, membaca memang mempermudah dalam proses penulisan, namun tanpa praktek sama saja kita menahan kencing kita, malah menjadi penyakit bagi diri kita.

Agar Berkembang ?

Kalau tadi menulis perlu membaca untuk mempermudah proses penulisan kini menulis perlu diskusi untuk mengembangkan penulisan. Diskusi membuat pola pikir kita berkembang, dengan tukar gagasan maka pemikiran kita akan semakin matang. Berdiskusi membuat kita tahu celah dari gagasan kita melalui sudut pandang orang lain. Dengan diskusi materi kita pun akan bertambah, akan tumbuh kesadaran-kesadaran baru akan suatu hal, kesadaran ini bisa membuat tulisan kita semakin kaya isinya.

Kesimpulannya ?

Intinya menurut saya yang kita perlukan untuk bisa menulis adalah kemauan dan keuletan, tidak lebih dan tidak kurang, masalah bagus tidak tulisan kita itu urusan belakang, pembiasaan menjadi hal penting dalam mengembangkan kemampuan menulis kita. Menulis dimulai dari kemauan bukan kemampuan. Saat menulis sesungguhnya kita sedang berproses, saat menulis kita belajar mengenal diri kita lebih dalam, belajar mengenal sekitar kita dengan lebih baik, dan menjadi tahu hakekat sebenarnya manusia di dunia, berbagi dan bermanfaat bagi sesama.

Menulis dimulai dari mau bukan mampu.

Mempelajari Sejarah

Pentingkah Sejarah ?

Salam Asanka…..

Halo pembaca, pada pos kali ini saya akan membahas tentang manfaat mempelajari sejarah. Saya akan menyampaikan pendapat saya tentang manfaat mempelajari sejarah.

Pendapat Saya

Banyak orang menganggap mempelajari sejarah itu tidak penting. Menurut saya, tidak begitu. Secara etimologi kata sejarah berasal dari bahasa arab yaitu syajaratun yang berarti pohon. Di Indonesia sejarah dapat berarti silsilah, asal-usul, riwayat, dan jika dibuat skema menyerupai pohon lengkap dengan cabang, ranting, dan daun. Di dalam kata sejarah tersimpan makna pertumbuhan atau silsilah. Namun kalau kita telusuri kembali apa arti pohon, kita akan menemukan sesuatu yang menarik.

Pohon adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari tata kehidupan. Pohon sangat diperlukan demi keberlangsungan hidup, mulai dari fakta bahwa pohon menghasilkan oksigen sampai manfaat pohon yang lain, misalnya sebagai bahan pondasi sebuah bangunan. Itu berarti pohon merupakan sesuatu yang begitu fundamental dalam kehidupan, begitu pula dengan sejarah. Sejarah merupakan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kita lepaskan dalam alur kehidupan. Mulai dari peristiwa, memori ataupun kejadian yang telah terjadi. Semuanya merupakan fakta kehidupan dimana hal itu memang benar-benar telah terjadi.

Maka dari itu, dari sejarah lah kita dapat mempelajari nilai-nilai yang dapat kita gunakan sebagai pedoman kita ataupun alat kita dalam menghadapi permasalahan, peristiwa, dan hal lain yang akan terjadi. Singkat kata dengan mempelajari sejarah kita dapat memperoleh suatu alat yang dapat digunakan untuk menerka sesuatu yang masih akan terjadi, karena sejarah merupakan pengalaman kolektif yang dihimpun dari berbagai macam persepsi kehidupan. Untuk meminimalisir kegagalan, maka wajib dari kita untuk mempelajari dan memaknai sejarah.

Selain itu pula sudah banyak bukti mempelajari sejarah itu sangat bermanfaat. Mempelajari sejarah perjuangan misalnya, para pendiri bangsa pada zaman dahulu banyak yang senang mempelajari sejarah mengenai bangsa ini. Sehingga mereka mempunyai semangat untuk memerdekakan diri dari penjajahan dan terbentuklah Indonesia. Itu berarti mempelajari sejarah dapat membangkitkan semangat perjuangan kita. Dan masih banyak pengetahuan yang akan kita peroleh dengan mempelajari sejarah.

Namun saya juga menyadari sistem pendidikan kita saat ini terutama dalam pelajaran sejarah lebih menekankan pada hafalan-hafalan panjang tentang suatu peristiwa. Pada akhirnya siswa akan melabelkan pelajaran sejarah sebagai pelajaran yang membosankan dan akhirnya enggan mempelajari sejarah. Padahal bila pelajaran sejarah dapat menekankan pada pesan-pesan yang terkandung dalam sejarah, pastinya akan menjadikan siswa akan lebih tertarik pada pelajaran sejarah. Jangan mempelajari sejarah hanya dari pesan yang tersurat namun carilah pesan tersiratnya.

Kesimpulan

Intinya menurut saya mempelajari sejarah adalah hal yang penting, karena sejarah merupakan hal yang fundamental, serta sejarah mempunyai sifat-sifat yang berguna bagi kita seperti edukatif, rekreatif, inspiratif, dan instruktif. Sebaiknya pemerintah lebih memerhatikan urgensi dari pelajaran sejarah dan menanamkan pentingnya belajar sejarah kepada masyarakat sedini mungkin. Seperti kata Bung Karno “Jasmerah” Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Bagaimana ? Apakah menurut kalian mempelajari sejarah penting ? Atau ada yang beranggapan lain ? Mari kita diskusikan di kolom komentar, mari kita saling melengkapi pendapat dengan diskusi yang sehat. Jangan ragu untuk berkomentar.

Mohon Kritik & Saran

“Mempelajari sejarah adalah mempertahankan masa kini dan menerka masa depan.”