Tempat Diskusi

Sejarah Kampungku

Halo teman-teman!

Tugas kali ini datang dari mata kuliah sejarah sosial dan politik Indonesia. Dalam tugas ini saya diminta untuk menulis sebuah esai tentang sejarah kampung saya. Disini saya menuliskan sedikit gambaran tentang ragam sejarah yang ada di Kota Madiun.

Selamat membaca!
Ketika saya mengikuti kegiatan lawatan sejarah daerah di Semarang yang pesertanya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jogjakarta, teman-teman saya sering memanggil saya dengan nada guyonan “PKI”. Tentu hal ini sangat beralasan karena orang-orang di luar Madiun terutama orang luar Provinsi Jawa Timur menganggap Madiun sangat kental dengan PKI. 

Saya tidak bisa menyalahkan teman-teman saya yang beranggapan seperti itu. Semenjak tahun 1948 seolah Madiun tidak bisa dipisahkan dari bayang-bayang PKI. Padahal Madiun kaya akan sejarah lain yang tak kalah penting dan tentu saja memiliki konotasi yang lebih baik daripada, PKI. Akhirnya saya harus menerima kenyataan bahwa banyak orang di luar sana yang beranggapan seperti itu.

Setelah pulang dari lawatan sejarah daerah saya menjadi penasaran dengan sejarah yang terjadi di kota di mana saya dibesarkan ini. Tidak berselang lama ada satu komunitas sejarah di Kota Madiun yang kebetulan sedang mengadakan kegiatan lawatan sejarah di dalam kota. Tanpa pikir panjang saya langsung mendaftarkan diri. Kegiatan selama satu hari tepatnya dari pagi ke siang hari itu membuat saya semakin sadar tentang potensi sejarah di kota saya yang memang belum banyak diangkat. Ada daerah pecinan yang sangat solid pada masanya, ada bank titil pada masa pendudukan Belanda yang masih berdiri kokoh, bahkan ada penjara politik yang dulu pernah digunakan untuk menahan Tan Malaka. Sayangnya bangunan-bangunan bersejarah di Madiun masih belum optimal pengelolaannya.

Pulang dari kegiatan ini saya belum merasa puas, hasrat saya untuk tahu lebih dalam malah semakin menjadi. Saya lantas membeli buku karya Ong Hok Ham yang berjudul “Madiun dalam Kemelut Sejarah: Priayi dan Petani di Karesidenan Madiun Abad XIX”. Dari buku ini saya menjadi tahu betapa pentingnya daerah Madiun semasa persaingan Sultan Yogyakarta dan Susuhunan Surakarta pasca perjanjian Giyanti. Saya juga menjadi lebih tahu tentang posisi Madiun yang sangat strategis secara geografis. Saya menjadi yakin kalau Madiun bukan hanya tentang PKI, ada sesuatu yang tersimpan di Madiun yang belum banyak terekspos.

Pada kegiatan lawatan sejarah daerah yang lalu semua perwakilan Jawa Timur dijanjikan untuk diundang dalam kegiatan jelajah sejarah klasik yang diadakan oleh dinas kebudayaan dan pariwisata Provinsi Jawa Timur. Sebelumnya saya tidak diberitahu tepatnya kegiatan ini akan diadakan. Setelah diberitahu lokasi pastinya saya menjadi bersemangat, jelajah sejarah kali ini diadakan di Madiun, betapa beruntungnya saya mendapat akses lebih terhadap sejarah daerah saya sendiri.

Dalam kegiatan ini sasaran utama tempat yang dikunjungi adalah tempat-tempat bersejarah yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat. Jujur saja hal ini terbukti, saya yang tinggal di Madiun pun baru mengetahui ada tempat-tampat itu. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Situs Mangiran. Situs Mangiran berada kurang lebih 30 km dari Kota Madiun. Situs ini dahulu diyakini sebagai desa kuno. Menurut pemaparan juru pelihara situs, tempat ini pernah menjadi tempat singgah Ki Ageng Mangir IV. Di dalam situs ini banyak ditemukan fragmen, arca, lingga, dolmen, dan sejenisnya. Namun tentu saja karena situs ini tergolong baru ditemukan maka masih banyak yang harus digali.

Beranjak dari Situs Mangiran saya diajak menuju Candi Wonorejo, candi ini letaknya tidak terlalu jauh dari Situs Mangiran. Candi ini terdiri dari batuan bertumpuk yang tidak terangkai sempurna sebagaimana candi pada umumnya. Terdapat lingga dan yoni di dalam area candi. Sejujurnya sampai saat ini saya masih meragukan keaslian dari lingga dan yoni tersebut karena kondisinya yang terlampau bagus untuk benda yang berumur sangat tua dan tidak terawat. Entah apa maksudnya bila dugaan saya memang benar, bahwa lingga dan yoni itu bukan asli dari zaman dahulu.

Beberapa minggu pun berlalu sejak jelajah sejarah klasik diadakan. Kebetulan juga di salah satu tempat bersejarah di Kota Madiun, yakni bosbow, sedang diadakan pameran. Di sana saya bertemu dengan guru SMP 2 Madiun yang sangat mendalami sejarah MASTRIP di Kota Madiun. Beliau bernama Pak Agung, saya mendengarkan pemaparan beliau tentang MASTRIP. Sepulang dari pameran saya menjadi tertarik dengan sejarah MASTRIP di kota saya. Sampai suatu ketika saya berkesempatan untuk datang ke rumahnya secara langsung untuk bertanya lebih dalam mengenai sejarah MASTRIP di Kota Madiun.

TRIP yang memiliki kepanjangan Tentara Republik Indonesia Pelajar merupakan kesatuan militer yang berisi para pemuda pemudi yang masih belia. Nama MAS-TRIP kemudian muncul karena kesatuan ini didominasi oleh laki-laki. Di Kota Madiun sendiri markas besar MASTRIP berada di SMP 2 Madiun. Di sana sekarang ada sebuah tugu yang menandakan tempat gugurnya salah seorang anggota MASTRIP yang bernama Moeljadi. SMP 2 Madiun terletak di Kelurahan Pandean yang berarti masih satu kelurahan dengan saya. Namun saya baru tahu kisah heroik tersebut setelah bertahun-tahun tinggal di kota ini. Sejarah yang ada di Kota Madiun sangat berwarna dan menarik untuk didalami, sampai sekarang pun saya juga masih sering mencari informasi tentang sejarah kota saya. Sayangnya data yang diberikan Pak Agung kepada saya hilang dari laptop saya, saat saya menulis ini saya masih mencari data tersebut karena isinya sangat menarik.

Dari proses pencarian ini saya menjadi sadar bahwa kita perlu melihat sejarah lebih dalam. Bukan hanya sekadar mengetahui nama tokoh dan waktu kejadian, kita juga harus bisa merangkai sebuah pesan dari sejarah itu sendiri. Dari sejarah di Madiun saya menjadi tahu pentingnya untuk tidak langsung menganggap suatu sejarah daerah sebagai label yang absolut untuk daerah itu. Saya menjadi tahu pentingnya mengkritisi sejarah yang ada.
Foto-foto terkait :
Peninggalan sejarah di Situs Mangiran.
Makam Syehk Ismail di dalam kawasan Situs Mangiran.
Candi Wonorejo. Terlihat lingga dan yoni ditengah candi.

Rumah Wohing Kapitein Chinese.

Sayangnya banyak foto yang hilang dari perangkat saya.

Kenapa Pilih DPP?

Halo teman-teman!

Kali ini blog Pena Asanka punya segmen baru, nama segmennya adalah “Tugas Kuliah”. Jadi sekarang saya baru saja menginjak bangku perkuliahan, saya kuliah di UGM jurusan politik dan pemerintahan. Kuliah di jurusan ini mengharuskan saya untuk sering menulis. Menurut saya mubazir kalau tulisan saya tidak diunggah di blog ini. Jadi saya putuskan untuk membuat segmen baru.

Tugas kali ini datang dari mata kuliah pengantar studi pemerintahan. Dalam tugas ini saya diberi tiga pertanyaan yang harus saya jawab melalui esai. Ini dia pertanyaanya :

1. Apa yang Anda ketahui tentang studi pemerintahan?
2. Kenapa memilih DPP?
3. Apa minat utama pada studi politik pemerintahan?
Dan ini jawaban saya
Selama ini saya mencoba menghimpun informasi melalui berbagai macam media. Sekarang setelah informasi itu terkumpul, saya mempunyai definisi sementara tentang apa itu pemerintahan. Pemerintahan menurut saya adalah sebuah alat yang digunakan oleh pihak yang mempunyai kewenangan, dalam hal ini negara, untuk menunaikan kewajiban serta mendapatkan haknya. Sementara itu, ilmu pemerintahan menurut saya ialah ilmu yang mempelajari serba-serbi alat tersebut. Tentu saja definisi saya tentang pemerintahan akan sangat mungkin berubah sejalan dengan proses pembelajaran dan pengalaman yang akan saya dapatkan.

Semenjak duduk di sekolah dasar saya sering membaca surat kabar. Sebenarnya membaca surat kabar pada awalnya memang bukanlah ketertarikan saya, tetapi karena bapak berlangganan surat kabar Jawa Pos yang selalu tiba di teras rumah saat pagi hari perlahan saya mulai tertarik untuk membaca surat kabar. Mula-mula saya membaca berita yang ringan dan bersifat menghibur, namun lama kelamaan saya menjadi tertarik untuk membaca berita yang lebih berat.

Headline koran yang menurut saya menarik, sukses membuat saya menjadi gemar membaca koran secara lebih utuh. Berita tentang pilkada, pemilu, penyelewengan dana, pembangunan, kemiskinan, bencana alam, dan masih banyak lagi berita yang pada akhirnya membuat diri saya bertanya. Apakah permasalahan di kehidupan memang tidak akan pernah habis? Kemudian saya menjadi tertarik dengan isu-isu sosial yang ada dan setelah itu saya meyakini bahwa ada sebuah sistem yang seharusnya dapat menjadi solusi untuk permasalahan-permasalahan yang ada. Yang saya yakini adalah bila politik dapat berjalan secara sehat maka permasalahan akan lebih mudah untuk diatasi.

Ketika duduk di kelas dua SMP saya memutuskan untuk masuk jurusan IPS saat nanti menginjak bangku SMA. Hal ini benar-benar saya lakukan meski pada awalnya banyak yang memandang sebelah mata keputusan saya, namun saya meyakini apa yang saya cari ada di jurusan IPS. Selama berada di SMA saya merasa sangat senang dengan pelajaran-pelajaran yang ada, saya juga cukup aktif mengikuti lomba-lomba berbau sosial.

Ketika di SMA ini pula saya mengenal dunia jurnalistik, saya sempat diamanahi menjadi ketua ektrakurikuler jurnalistik SMA saya dan juga menjadi ketua sebuah komunitas jurnalistik yang berisikan gabungan ektrakurikuler jurnalistik SMA yang ada di Kota Madiun. 

Semua pengalaman itu menjadikan saya semakin tertarik dengan permasalahan sosial yang ada. Melalui proses akademik saya selama SMA, saya juga menjadi yakin bahwa politik adalah jalan untuk merangkum dan menyalurkan minat saya. Setiap orang berhak memiliki pendapat yang berbeda , namun menurut saya muara dari pelajaran-pelajaran IPS yang saya dapatkan selama SMA ialah jurusan politik.

Saya selalu senang berada di Jogja, mungkin karena kultur budaya daerah saya tidak terlalu berbeda dengan Jogja saya menjadi mudah mencintai Jogja. Lagu “Sesuatu di Jogja” karya Adhitia Sofyan memang benar adanya. Saya juga melihat Jogja sebagai tempat yang baik untuk berproses, terutama di kampus impian saya, UGM. Dengan segala pertimbangan yang ada saya sangat ingin berkuliah di UGM jurusan politik dan pemerintahan. Alhamdulillah keinginan saya bisa terwujud.

Setelah mengikuti kelas minggu pertama pengantar studi pemerintahan dan mendapat penjelasan tentang peminatan yang akan dipelajari ke depannya, saya menjadi tertarik dengan studi negara dan masyarakat. Menurut saya dua hal ini tidak bisa dipisahkan. Negara membutuhkan masyarakat dan masyarakat membutuhkan negara, hal ini menjadi menarik untuk didalami kedepannya.

Sepasang Mata

Hujan telah reda, tersisa dedaunan dari pohon yang diterpa kekasihnya, mereka sedang tak baik-baik saja. Jika biasanya pertemuan mereka membuat desir indah untuk didengar, namun kali ini berbeda, pertemuan kali ini membuat pohon menggugurkan daunnya bak air mata setelah pertengkaran yang tak bernilai. Di dekat pohon itu berdiri, ada sepasang mata yang terpaku pada buku yang ia pegang, sendiri di taman ia tak gentar, malah terlihat senang seakan lupa hujan besar baru saja menghujam, tak peduli juga dengan pertemuan pohon dengan kekasihnya . Tak jelas apa yang ia baca, sampul bukunya telah pudar, mungkin termakan usia, mungkin juga telah lupa pada jati dirinya, ah yang penting bisa dibaca bukan?

Sepasang mata itu  mencari sesuatu, sesuatu yang mungkin saja tidak ada pada buku itu, namun dia tetap mencari, dengan perlahan, dengan pandangan yang tak dapat dialihkan. Halaman demi halaman dibalik dengan ringan, hingga akhirnya dia menatap lama pada satu halaman, dia terpaku. Sepasang mata itu kemudian meneteskan sesuatu, sesuatu yang telah lama ia pendam. Satu halaman itu menjadi sasaran air mata yang entah untuk siapa dan entah untuk apa, hanya sepasang mata itu yang tahu, dia benar-benar menyimpan rahasia ini untuk dirinya dan tentu saja Tuhan.

“Tak apa lelah, tak apa menangis, kamu masih manusia.” Untukmu, diriku. Halaman 221.

Wiyung : Penjaga Sepi (2)

“Goblog kamu, pagi-pagi begini mau jadi makanan buaya.”

Parman terus menasihati Wiyung sambil marah-marah, capek juga lama-lama, apa lagi dia baru saja menarik Wiyung cepat-cepat pas mau lompat ke sungai, yang sebenarnya tidak begitu dalam, tapi banyak buayanya, buaya asli bukan buaya darat. Ada pula batu besar pas dibawah mantan calon tempat lompat Wiyung. Lengkap. Telat sedetik saja, dapat dipastikan Wiyung sudah jadi berak buaya.

Mendengar Parman terus memarahinya, Wiyung diam saja, sambil menatap kosong ujung jembatan, sebenarnya dia juga menyesal tadi mau lompat ke sungai, sesaat sebelum Parman datang, pas mau lompat, sekejap Wiyung ingat sapi-sapinya, mendiang orang tuanya, rumah sederhana peninggalan kakek neneknya, masa kecil bahagianya, bahkan wanita itu, ya wanita itu. Dalam hati walau kesal terus dicelotehi Parman, Wiyung sebenarnya sangat berterima kasih pada Parman, ada saja ternyata orang yang masih peduli padanya.

Setelah puas dan kehabisan kata, Parman langsung mengajak Wiyung pulang kerumah, Wiyung mengangguk saja. Kembali Parman melewati sawah yang segan untuk hidup, mau mati tapi tak diijinkan petani, mau hidup tapi tak dapat pupuk subsidi. Kacau. Sesampainya di pelataran rumah, Wiyung langsung disambut sapi-sapinya, “Mouu……”, meninggalkan Parman sendiri, Wiyung berlari ke kandang sapi, langsung dipeluk, dicium, sampai puas. Sapi-sapi Wiyung biasa saja, yang penting makan, tidur, berak, dan beranak. Tidak peduli nasib tuannya yang hampir jadi santapan buaya. Parman geleng-geleng kepala lihat kelakuan Wiyung, sekarang dia percaya kata orang, Wiyung telah gendeng.

Usai menciumi semua sapi-sapinya, Wiyung seperti kembali punya semangat hidup, mulai ada kobar api kecil dimatanya.

“Woy Yung, aku tamumu kok ndak kamu urus, malah ngurus sapi bau mu terus, tau gitu tak biarin aja kamu lompat, lumayan kalau jadi berak buaya, bisa jadi makanan ikan wader”, Parman mulai protes,

“Sabar Mann, kunci rumahku tadi sudah tak buang ditumpukan tletong, gak ngira aku kalau masih bisa hidup”, Wiyung menjawab sambil menunjukkan kunci rumahnya yang kotor dan bau tletong.

“Edan”, Gumam Parman lirih.

Setelah membersihkan tangan dan kunci rumah, Wiyung lantas membuka pintu depan rumahnya,

“Ayo Man masuk”, tanpa permisi Parman masuk duluan dan langsung duduk di kursi ruang tamu yang sekaligus jadi ruang keluarga, kursinya tidak baru, sudah tua, barangkali sudah masuk kriteria barang purba, cocok dimuseumkan. Wiyung entah kesambet apa, mungkin genderuwo, mungkin juga penunggu sungai, atau malah karena sudah jadi orang gila, tanpa basa-basi Wiyung langsung ambil posisi sungkem dibawah kaki Parman,

“Mak… asih… yo Man… nn…”, Wiyung mengucapkan kalimat saktinya dengan tidak jelas, antara lendir hidung dengan air mata sudah jadi satu, pecah sudah tandon air mata Wiyung. Parman yang kebingungan dengan sikap Wiyung langsung mengambil sikap kebapakan, Parman mengusap-usap pundak Wiyung, sebenarnya Parman bukannya ingin menenangkan, tapi takut kalau Wiyung benar-benar kesambet.

“Sudah…. sudah…. kita kan teman, sudah sewajarnya saling membantu, menolong satu sama lain, apalagi pas ada kesusahan” Akhirnya nilai PPKN Parman yang selalu bagus saat masih sekolah dapat dimanfaatkan dengan baik, berguna juga belajar bijak dari Mario Wakwao. Usai menelurkan kata-kata bijaknya, Parman mengkode Wiyung agar bangun dari sungkemnya lalu duduk di samping Parman.

“Su…wu…n.. Man… ndak… a…da.. kam..u.. aku… ud..ah… ketem…u… bap..ak..k..u.” Wiyung masih terus mengucap terima kasihnya sambil sesekali menyedot ingusnya.

“Husshh, sudah, laki-laki nggak boleh nangis, malu sama sapimu, udah-udah, kalo masih nangis tak laporin ke Pak Sarwo nanti, biar disembur.” Ucap Parman mulai capek mendengar Wiyung menangis.

Mendengar ancaman Parman Wiyung langsung membenahi dirinya, takut juga dia sama Pak Sarwo. Pak Sarwo ini dukun paling top di desa, semburan Pak Sarwo terkenal moncer dalam menyembuhkan orang-orang kesurupan, kalau ada yang kesurupan terus kena semburnya niscaya akan langsung sembuh, bukan karena mengandung doa atau mantra, tapi karena baunya, setan-setan pada takut sama bau semburan Pak Sarwo yang konon katanya tidak pernah sikat gigi tapi sering nginang, cuman ya nginangnya bukan pakai sirih saja, sudah ditambahi teletong sapi sedikit untuk penambah rasa.

Setelah melihat Wiyung tidak sedat sedot ingus lagi, Parman lantas menanyai Wiyung mengapa tadi bisa sampai mau bunuh diri.

“Aku stress Man, masalah hidupku runyam, ndak ada yang membuat hidup ini perlu diperjungkan, kamu tahu kan orang tua ku sudah ndak ada, aku ndak punya saudara, pekerjaanku cuma angon sapi sama nyambi sana-sini, ndak jelas.” Wiyung berucap dengan wajah sedihnya,

“Loh kamu kan tahu temen-temen kamu itu banyak, kalau ada masalah ya mbok diceritakan, biar ndak jadi beban, terus kalau kamu mati apa masalahmu selesai? Ya pasti ndak.” Balas Parman dengan geram.

“Iya Man tadi pas mau lompat aku tiba-tiba sadar, nyesel juga aku mau lompat tadi.”

“Banyak orang di luar sana susah-susah nyari obat biar bisa sembuh, biar bisa hidup, lha kok kamu malah pengen mati.”

“Maaf yo Man aku udah ngrepotin kamu, aku emang goblog, ndak mikir dulu, ndak bersyukur sama keadaan.” Wiyung kembali mengusap air matanya.

“Yowes, sekarang gini aja, kamu tenangin diri kamu dulu, maen sama sapimu apa gimana, yang penting seneng, terus inget sama Gusti, jangan lupa sembahyang, tobat.” Gelagat Parman sudah seperti psikolog.

 

(Bersambung)

Memulai dan Mengalir

Salam Asanka…

Halo pembaca, apakah menurut kalian menulis adalah hal yang menyenangkan ? Atau malah membosankan ? Kenapa kita terkadang sulit untuk menulis ? Bagaimana solusinya ? Hmm… saya akan memberikan pendapat saya mengenai hal tersebut.

Mengapa Sulit ?

Banyak dari kita bahkan saya sendiri merasa menulis menjadi momok tersendiri, baik menulis untuk tugas, untuk kesenangan, maupun untuk urusan lain. Menulis terasa berat untuk dilakukan, mulai dari kita merasa teori kita dalam menulis masih kurang, tidak mendapatkan inspirasi, tidak punya bahan tulisan, dan masih banyak lagi alasan-alasan yang rasanya menjadi jangkar kita dalam menulis, jangkar yang sulit dihilangkan. Mungkin kita sering mencari-cari teori menulis yang baik agar dapat diterima oleh orang banyak, namun nyatanya kita malah terlalu asyik mencari teori sampai lupa akan hal yang paling penting untuk dapat menulis, apa itu ? Tentu saja praktek.

Kita selalu merasa kurang untuk memulai menulis hingga tak mau untuk benar-benar memulainya, coba saja langsung tuliskan apa yang ada dipikiran, tulis apa yang kamu rasakan, apa yang kamu lihat, apa yang kamu lalui hari ini, apa yang ingin kamu lakukan besok, tulis apa saja yang terlintas di benak kalian. Menulislah bagai air yang mengalir, masalah perbaikan nanti bisa dilakukan.

Agar Mudah ?

Membaca dan menulis tidak dapat dilepaskan kaitannya, mereka bagai gitar dan senar. Oiya membaca disini selain membaca buku juga bisa dengan membaca keadaan, membaca situasi dan kondisi di sekitar kita.  Kalau kata Akung Bondhet ~ (Penulis,Jurnalis,dll), beliau mengutip dari Bapak Dahlan Iskan ketika beliau masih di Jawa Pos, membaca itu air dan menulis itu kencing. Jadi kalau kita meminum air semakin banyak, kencing yang keluar pun juga akan banyak. Kalau kita minum air sedikit bahkan tidak minum sama sekali pasti kencing kita akan ikut sedikit bahkan kering kerontang.

Analogi ini bagaimanapun sangat tepat menggambarkan hubungan antara membaca dan menulis, kalau kita membaca banyak buku maka perbendaharaan kata kita akan bertambah, kita menjadi tahu bentuk-bentuk penulisan, materi kita pun akan bertambah, wawasan kita juga meluas, dan akhirnya dengan sendirinya menulis menjadi lebih mudah. Jika kita terlatih membaca keadaan maka kita menjadi peka akan kenyataan, dengan kepekaan ini kita dapat menjadi lebih mudah untuk merumuskan bayang pikiran kita. Tentu saja tetap yang paling penting untuk dapat menulis adalah praktek, membaca memang mempermudah dalam proses penulisan, namun tanpa praktek sama saja kita menahan kencing kita, malah menjadi penyakit bagi diri kita.

Agar Berkembang ?

Kalau tadi menulis perlu membaca untuk mempermudah proses penulisan kini menulis perlu diskusi untuk mengembangkan penulisan. Diskusi membuat pola pikir kita berkembang, dengan tukar gagasan maka pemikiran kita akan semakin matang. Berdiskusi membuat kita tahu celah dari gagasan kita melalui sudut pandang orang lain. Dengan diskusi materi kita pun akan bertambah, akan tumbuh kesadaran-kesadaran baru akan suatu hal, kesadaran ini bisa membuat tulisan kita semakin kaya isinya.

Kesimpulannya ?

Intinya menurut saya yang kita perlukan untuk bisa menulis adalah kemauan dan keuletan, tidak lebih dan tidak kurang, masalah bagus tidak tulisan kita itu urusan belakang, pembiasaan menjadi hal penting dalam mengembangkan kemampuan menulis kita. Menulis dimulai dari kemauan bukan kemampuan. Saat menulis sesungguhnya kita sedang berproses, saat menulis kita belajar mengenal diri kita lebih dalam, belajar mengenal sekitar kita dengan lebih baik, dan menjadi tahu hakekat sebenarnya manusia di dunia, berbagi dan bermanfaat bagi sesama.

Menulis dimulai dari mau bukan mampu.

Wiyung : Penjaga Sepi

Angin berhembus tak karuan, air turun tapi segan, matahari muncul namun malu-malu harimau, awas saja kalau diterkam. Ditepi sungai sambungan bengawan ini Wiyung seperti hilang ingatan, ngalor ngidul layaknya kucing cari makan. Tak jelas apa musababnya, berjalan ke utara dia tendang batu, berjalan ke selatan di tendang batu lagi, tapi yang ini bukan batunya yang mental, malah Wiyung yang tersungkur, lha wong batunya besar. Memang aneh betul sikap Wiyung hari ini, bertemu Parman pun dia tak sudi bersalaman, padahal biasanya Parmanlah yang sering memberi utang. Dasar Wiyung tak tahu diuntung. Setelah Parman berlalu, Wiyung kembali ke tepi sungai, ditatapnya sungai yang terus mengalir, diratapinya kesalahan bodohnya pagi ini, dia membatin “Andai saja aku ikan wader, habis kawin lalu dipancing manusia, dimakan, lalu terbang ke surga.” Wiyung kembali berdiri, berteriak sendiri ke arah sungai, “Jancokkk.” Tegas dan berani, padahal dia tahu 50 meter dari tempatnya berdiri ada masjid yang telah siap mengumandangkan ajakannya. Dasar gendeng. Matahari pun segera saja tergelincir, sekarang berwarna jingga. Wiyung telah puas melepaskan emosinya, melepas penatnya, walau selepas ini dia dicap jadi orang gila.

Banyak orang bertanya-tanya, mulai dari para tetangga, penjual sayur, penjual pentol, penjual sate, penjual mie ayam, penjual pecel, penjual bakpao, sampai kakek-kakek penghuni masjid. Apa Wiyung jadi gendeng seperti ini karena masalah hati ? Tapi pertanyaan ini langsung disangkal ingatan mereka sendiri, karena mereka tahu Wiyung memang telah lama sendiri, tak mungkin dia cidera hati. Wong sehari-hari tugasnya angon sapi, mosok ya gendeng karena hati, paling-paling karena sudah bosan ngurus teletong sapi. Anak-anak disekitar rumah Wiyung sudah dilarang ibu bapaknya untuk bermain di dekat rumah Wiyung, para ibu bapak sepakat bilang ke anak mereka kalau sekarang Wiyung jadi manusia setengah genderuwo. Anak-anak jadi takut, kalau tak sengaja melihat Wiyung langsung saja anak-anak menjerit sambil berlari pulang, meninggalkan Wiyung yang memang telah lama sendiri, sepi.

Tahu telah dijauhi tetangganya Wiyung santai saja, kembali ke rutinitasnya lagi, angon sapi. Dia tahu cara dia melepas penat beberapa hari lalu memang akan membawa dampak bagi pandangan orang terhadap dirinya. Sekarang yang tidak menganggapnya edan ya tinggal sapi-sapi angonnya yang setiap hari diberi makan, dibersihkan teletongnya, dan sesekali dimandikan kembang. Harap maklum, Wiyung telah cinta mati sama sapi-sapinya, alasannya sederhana, ya karena yang mau sama Wiyung tinggal sapi-sapinya. Kalau sapi-sapi Wiyung sudah pada maklum tuannya jadi seperti itu, yang penting bagi mereka tuannya dapat mencukupi kebutuhan dasar mereka, rumput segar dan kandang yang bersih dari kotoran mereka sendiri. Bicara masalah cinta, selain pada sapi-sapinya sebenarnya dia juga punya cinta pada manusia, nyatanya Wiyung masih normal, bisa suka kepada wanita, wanita ini pulalah yang membuat Wiyung dikira sudah gila. Pernah setelah melepas penat Wiyung pergi ke pasar, di pasar diteriaki wong edan sama pedagang sapu, sambil promosi sapunya, pedagang sapu praktek usir setan, Wiyung jadi sasarannya. Lewat dari pedagang sapu ada pedagang handuk, sambil terus merancu handuknya barang yang kuat, si pedagang terus menyabet Wiyung yang mau beli handuk, dasar malang nasib Wiyung kali ini. Tak dapat apapun di pasar kecuali lebam dan memar.

Satu minggu sudah Wiyung diberi label gendeng oleh warga desa. Parman yang memang telah curiga dengan gerak-gerik Wiyung akhir-akhir ini, mencoba memberanikan diri, sendiri dia pergi ke rumah Wiyung yang memang tak jauh dari rumahnya, dekat jembatan desa. “Yung Wiyung….” (tok tok tok) dengan sabar Parman mengetuk pintu rumah Wiyung. “Yung Wiyung…..”, “Mouuuuu….” Malah sapi-sapi Wiyung yang menjawab, serentak pula. Burung yang bertengger di pohon depan rumah Wiyung sudah bersiul-siul bersahutan, seakan mengatakan kalau sedang tidak ada orang di rumah. “Tak biasanya Wiyung tidak ada di rumah pagi-pagi begini.” Gumam Parman yang memang telah hafal jam-jam keluar Wiyung. Parman masih sabar menunggu, sambil ikut bersiul Parman menikmati pagi yang masih bebas polusi, polusi gosip ibu-ibu. Setengah jam Parman menunggu, sabar Parman sudah diujung jalan, akhirnya Parman pulang, meninggalkan sapi yang terus teriak mou mou dan burung yang tak kehabisan siul. Parman pulang lewat jalan biasa, melewati pematang sawah yang tak panen-panen, tak luas pula sebenarnya sawah desa ini. Meninggalkan sawah yang sudah malas menguning, Parman kemudian melewati jembatan desa yang sudah agak tua, ditengah jembatan Parman melihat ada yang aneh, “WIYUNGGGG!!!!”

(Bersambung)

Gagasan Harus Diperjuangkan

Gagasan harus diperjuangkan, bukan hanya sekedar mengambang dan akhirnya hilang, diperjuangkan hingga menuju titik terang, hingga menjadi penerang, bermanfaat untuk setiap insan. Walau tak mungkin juga membuat senang semua orang. Walau terkadang dalam perjalanan halangan dan rintangan selalu datang, namun anggap semua itu sebagai tantangan, yang menjadikan dirimu lebih kuat, lebih tegap, lebih siap untuk kembali berjalan. Dalam perjalanan sering kali kita tergoda untuk diam, untuk beralih ke lain tujuan, namun selalu ingat niat awal, segeralah kembali, segeralah sadar. Dalam perjalanan kita akan bertemu sesuatu yang baru, mungkin kawan baru, mungkin suasana baru, mungkin emosi yang belum pernah kau rasakan. Keluarlah dari zona nyaman, cepatlah beradaptasi. Mungkin sesekali kau rindu dengan nyamanmu, rindu dengan amanmu. Namun renungkan, semua dapat kembali kau ciptakan, nyamanmu serta amanmu. Tinggal kembali berjuang. Kuatkan dirimu, perbanyak doamu, lakukan yang terbaik. Bertahanlah, kamu bisa.

Laku

Banyak impian yang dibuang
Banyak sesal yang dipendam
Banyak keinginan yang ditendang
Bahkan yang dilakukan hanya diam
Tak lagi berbincang tentang mimpi
Tak lagi mengingat kemana ingin pergi
Terpaku pada laku manusia berdasi
Sungguh ironi nasib manusia ini
Membuang mimpinya untuk sebutir nasi
Dengan menanam diri pada gedung tinggi
Yang dia ketahui tak dapat terbang lebih lagi
Bahkan sampai nanti ketika mati telah menanti

Jangan begitu teman
Sadarlah dunia masih luas
Semesta masih terhampar
Impian haruslah kau kejar
Jangan digantung bak jemuran
Terkontang-kanting menanti hilang
Hingga kau sadar waktumu tinggal angan
Kembali tak akan mungkin
Harapan jadi terpendam
Dan hanya air mata yang keluar, sesal tak karuan

Sekian

Semenit berlalu dan aku terus mengingatmu, ternyata menit yang berlalu tadi adalah penyambung lidah terakhirku padamu. Setelah ini kau pergi, mungkin kembali ke rumah lamamu, atau bisa juga mengembara ke antah berantah yang kau sebut indah itu. Aku sudah malas untuk tahu, nadiku berkata kau bukan lagi purnama malamku, bahkan kakiku sudah tak mau lagi melangkah padamu. Makan malamku telah habis kulahap, tersisa piring untuk kebersihkan, tersisa meja untuk kubiarkan, dan tersisa kau untuk kutinggalkan. Bukan, ini bukan salahmu, ini juga bukan salahku, mungkin ini salah pohon yang kita gunakan untuk berteduh sore itu. Andai pohon itu tak menjebak kita pada bualan cinta, mungkin kita tak akan pernah begini, mungkin kisah kita tak akan berujung pada kasih yang pecah ini. Sekarang aku akan berjalan saja ke ufuk timur, mencari fajar dan memaki pohon itu bila kutemui lagi. Kau mungkin akan berjalan ke barat dan segera menemukan pohon lain untuk berjumpa cinta yang baru. Malam ini kita berdua, selesai.

Rindu

Padi mulai menguning, air di kali mulai bening, sapi di ladang telah kenyang terkapar, anak-anak mulai mencari ikan. Aku melihat ilalang kembali menjulang, menyembunyikan kelemahannya, melindungi martabatnya. Pohon jati menemui lagi daunnya, dipinang kemudian tumbuh bersama. Sayang sekarang kunang-kunang tinggal angan, ingatan masa kecil yang rasanya sulit terulang. Semuanya, ya semuanya. Yang tersisa kini tinggallah sepi, menyayat hati, lukai nurani. Perantauan memang kejam, bukan, bukan perantauan yang kejan, namun rindu, rindu yang kejam. Semilir angin kembali berhembus, dan kutemui air mataku jatuh, membasahi kertas, bukan sembarang kertas, melainkan foto masa kecilku. Terlampau rindu hingga pikiranku selalu melayang, tak sekedar bersama bintang, lebih tinggi lagi, mungkin telah mengenai batas semesta. Aku punya kewajiban, tanggung jawab yang harus diemban, impian yang harus dikejar. Waktu memang tak dapat diulang, setidaknya kenapa ia tak memberi kesempatan ?

Kini aku sendiri, menatap foto masa kecil dengan dada sesak, mata sembab, dan hati yang penuh harap. Aku harus sadar bagaimana aku disini, temanku sekarang sepi, sahabatku kini sendiri, air mata tak boleh jatuh lagi, aku harus kuat. Harus kuingat untuk apa aku disini, derita batin ini tak seharusnya menguap sia, aku harus berjuang, aku harus bertahan. Masa kecilku tak boleh kulupakan, namun masa depanku harus selalu kuusahakan, kupersiapkan, kuperjuangkan, hingga akhirnya dapat kugenggam, dan aku dapat pulang, kembali dari perantauan, menuntaskan rindu, bertemu kamu, rumah.